Cycle of Civilization

Cycle of Civilization

Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII): Gagasan Ibn Khaldun memberi pengaruh luas bagi pemikir modern. Albert Hourani dalam A History of the Arab Peoples menjadikan konsep ‘ashabiyah (solidaritas sosial) sebaga-dok disway-

Pada tahap ini, masyarakat menikmati hasil kerja keras generasi sebelumnya. Solidaritas sosial masih ada, tetapi mulai melemah seiring meningkatnya kenyamanan hidup.

Fase ketiga adalah fase kemunduran. Generasi penerus lebih menikmati hasil daripada memperjuangkannya. Kemewahan meningkat, inovasi menurun, dan solidaritas sosial terkikis. Konflik internal, persaingan elite, serta ketidakadilan sosial mulai menguat.

Fase keempat adalah kehancuran. Ketika fondasi sosial, ekonomi, dan politik runtuh, peradaban tidak lagi mampu bertahan. Yang tersisa hanyalah jejak sejarah, sementara siklus baru dimulai oleh kelompok lain dengan solidaritas yang lebih kuat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sejarah Nusantara menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah ruang kosong peradaban. Sriwijaya dan Majapahit pernah tampil sebagai kekuatan besar yang menguasai jalur maritim, perdagangan, dan kebudayaan kawasan.

Namun kejayaan itu tidak bersifat abadi. Ketika solidaritas politik melemah, pusat kekuasaan terfragmentasi, dan kemampuan beradaptasi menurun, kedua peradaban tersebut runtuh dan digantikan oleh entitas-entitas yang lebih kecil.

BACA JUGA:Pelatihan Observasi Hilal Dibuka, Kemenag Ajak Konten Kreator dan Influencer Kuasai Hisab Rukyat

BACA JUGA:Chelsea Tikung Manchester United dalam Perburuan Carlos Baleba

Indonesia modern, yang dimulai sejak kemerdekaan 1945, kini sedang menapaki usia menuju satu abad pada 2045. Dalam perspektif Ibn Khaldun, usia ini merupakan fase kritis dalam siklus peradaban.

Pertanyaannya bukan sekadar seberapa lama Indonesia berdiri, tetapi pada tahap apa bangsa ini berada: apakah masih dalam fase membangun fondasi peradaban dengan visi kebangsaan yang kuat, atau justru mulai kehilangan momentum karena lemahnya solidaritas sosial dan kepemimpinan strategis.

Dalam bahasa ekonomi, kegelisahan itu terpantul dalam wacana middle income trap—kondisi ketika negara memiliki potensi besar, tetapi gagal melompat menjadi bangsa maju karena stagnasi inovasi, industrialisasi yang setengah matang, dan ketimpangan struktural yang tak terselesaikan.

Solidaritas Sosial sebagai Kunci

Ibn Khaldun menegaskan bahwa peradaban maju jika memiliki solidaritas sosial yang kuat. Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial besar melalui budaya gotong royong.

Di Lamalera, Nusa Tenggara Timur, misalnya, tradisi berburu paus dilakukan secara kolektif—mulai dari persiapan hingga pembagian hasil—sebagai ekspresi solidaritas sosial yang hidup.

Émile Durkheim mengingatkan bahwa solidaritas sosial harus disertai collective effervescence, yakni rasa kebahagiaan dan keterikatan bersama. Jika masyarakat tidak merasa adil, aman, dan sejahtera, solidaritas akan rapuh.

Ibn Khaldun juga memperingatkan bahwa solidaritas sosial hancur oleh korupsi dan ketidakadilan. Ketika kekayaan menumpuk pada segelintir elite, sementara mayoritas masyarakat tertinggal, ashabiyah melemah. Kehidupan elite yang korup dan nepotistik mempercepat kehancuran peradaban.

Korupsi di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Indeks persepsi korupsi yang stagnan menunjukkan bahwa ancaman terhadap solidaritas sosial belum teratasi sepenuhnya. Jika dibiarkan, ketidakadilan ekonomi akan semakin melebar dan melemahkan fondasi kebangsaan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads