Cycle of Civilization

Cycle of Civilization

Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII): Gagasan Ibn Khaldun memberi pengaruh luas bagi pemikir modern. Albert Hourani dalam A History of the Arab Peoples menjadikan konsep ‘ashabiyah (solidaritas sosial) sebaga-dok disway-

BACA JUGA:Pengamat: APBN 2026 Jadi Kunci Pengelolaan dan Kemandirian Industri Pertahanan

BACA JUGA:Imron Djatmika

Demokrasi dan Masa Depan Peradaban

Bagi masyarakat majemuk seperti Indonesia, demokrasi bukan sekadar pilihan sistem politik, melainkan prasyarat keberlanjutan peradaban.

Demokrasi menyediakan ruang bersama bagi kelompok yang berbeda—agama, etnis, kelas sosial—untuk hidup berdampingan tanpa saling meniadakan.

Melalui hak suara yang setara, setiap warga memiliki kesempatan menyampaikan aspirasi dan ikut menentukan arah kolektif bangsa, sekalipun pandangan dan kepentingan mereka beragam.

Di sinilah demokrasi bekerja sebagai mekanisme penyaluran konflik secara damai, mencegah ketegangan sosial berubah menjadi kekerasan dan perpecahan.

Lebih jauh, demokrasi menuntut akuntabilitas kekuasaan. Kekuasaan yang diawasi, dibatasi, dan dikoreksi secara terbuka memberi peluang lebih besar bagi lahirnya keadilan sosial.

Tanpa demokrasi yang substantif, solidaritas sosial mudah terkikis oleh ketimpangan, korupsi, dan dominasi kelompok tertentu. Bagi Indonesia, terutama para pemimpinnya, menjaga demokrasi berarti merawat fondasi peradaban itu sendiri.

Siklus peradaban memang keniscayaan sejarah, tetapi kehancuran bukanlah takdir yang tak terelakkan. Pertanyaannya kini: apakah demokrasi Indonesia akan sungguh menjadi energi pemersatu peradaban, atau justru berubah menjadi panggung perebutan kuasa yang mempercepat kemundurannya? 

 

by: Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads