Pedagang Kecil Menjerit, Satu KTP Satu Harga Gas LPG 3 Kg Bikin 'Kecekek’
Tabung LPG 3 kilogram atau gas melon yang merupakan bahan bakar bersubsidi bagi rumah tangga dan usaha mikro di Indonesia.--Jakartaglobe
“Besar sekali dampaknya. Sekarang saja kebutuhan sudah naik semua,” ujarnya.
Ia juga menilai kebijakan pembelian LPG menggunakan KTP berpotensi membuat urusan menjadi lebih rumit.
BACA JUGA:Pertamina Hentikan Operasional SPBE di Serang Usai Dugaan Pelanggaran Takaran LPG 3 Kg
“Makin ribet. Apalagi kalau gas habis sudah malam, masa harus cari KTP dulu?” katanya.
Supartini (52) juga mengaku kecewa membayangkan jika namanya tidak masuk dalam daftar penerima subsidi.
“Kalau ternyata tidak masuk daftar, pasti sedikit kecewa,” ucapnya.
Ia memperkirakan tambahan biaya hampir Rp200 ribu per bulan jika harus beralih ke gas nonsubsidi. Menurutnya, kenaikan itu bisa mengganggu pos kebutuhan lain yang lebih prioritas.
“Pemerintah harus lebih memperhatikan rakyat kecil dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,” tuturnya.
BACA JUGA:Pertamina Hentikan Operasional SPBE di Serang Usai Dugaan Pelanggaran Takaran LPG 3 Kg
Sementara itu, Aminah Putri Wardani (34) bahkan sudah merasakan dampaknya. Ia mengaku ditolak saat pengecekan di pangkalan karena statusnya tidak terdaftar sebagai penerima subsidi.
“Ditolak, sedih karena kondisi perekonomian saat ini sedang sulit,” katanya.
Jika benar-benar tidak bisa lagi membeli LPG 3 kg, ia memperkirakan harus mengeluarkan tambahan sekitar Rp187 ribu per bulan.
“Sangat besar, karena pengeluaran untuk membeli gas saja jadi hampir 10 kali lipat dari sebelumnya,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: