Apa Itu Selat Hormuz yang Ditutup Pasca Iran Diserang Israel-AS? Ini Dampaknya Bagi Indonesia

Apa Itu Selat Hormuz yang Ditutup Pasca Iran Diserang Israel-AS? Ini Dampaknya Bagi Indonesia

Selat Hormuz ditutup pasca Iran diserang oleh Israel dan AS, apa dampaknya bagi Indonesia?--X (Twitter)

Untuk di titik tersempit, lebar selat sekitar 33 kilometer. Sedangkan, jalur pelayaran di masing-masing arah hanya sekitar 3 kilometer.

Kondisinya tersebut membuat Selat sangat rentan terhadap gangguan atau serangan.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Selat Hormuz merupakan urat nadi untuk sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.

Setiap harinya, diperkirakan ada 20 juta barel minyak mentah, kondensat serta bahan bakar melintasi selat sempit tersebut.

BACA JUGA:Iran Darurat, Pantau Kabar Terbaru Kondisi 329 WNI yang Masih Terjebak

Apabila Selat Hormuz ditutup jalurnya, maka dampaknya akan terasa sampai kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Negara seperti China, India, Jepang dan Korea Selatan juga menjadi salah satu konsumen utama yang hampir menyerap 70 persen arus minyak dari jalur ini.

Tak haya minyak, pasokan gas alam cair (LNG) global juga bisa terancam mengingat Qatar juga sangat bergantung dengan Selat Hormuz sampai saat ini untuk ekspornya.

Kini, harga minyak mentah dunia dilaporkan mulai bergejolak akiba ketidakpastian keamanan di jalur yang hanya mempunyai lebar pelayaran efektif sekitar 3 kilometer itu.

Dampak Penutupan Selat Hormuz bagi Indonesia

Iran diketahui merupakan negara dengan produsen minyak terbesar keempat.

Selat Hormuz sendiri adalah jalur vital yang menjadi lalu lintas utama 25 persen perdagangan minyak mentah dunia dan 20 persen pasokan gas alam cair (LNG).

Apabila ditutup, dampaknya bisa menjadi supply shock besar yang akan mengguncang pasar energi global, termasuk Indonesia. Berikut rinciannya:

1. Harga minyak akan melonjak, BBM bakal naik

Penutupan Selat Hormuz bisa langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

Pasokan global yang terganggu akan mendorong harga minyak ke level yang jauh lebih tinggi, bahkan ada yang menembus 100 sampai 150 dolar AS per barel.

Untuk Indonesia, sebagian besar kebutuhan minyaknya masih dipenuhi melalui impor, dengan kondisi seprti ini akan sangat membebani biaya energi nasional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads