Dicibir Cuma Lulusan Paket C, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Disupport Aktivis 98 Pendiri Omah Dongeng Marwah

Dicibir Cuma Lulusan Paket C, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Disupport Aktivis 98 Pendiri Omah Dongeng Marwah

Hasan Aoni, pendiri Omah Dongeng Marwah, sekolah Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto--Facebook/Instagram

JAKARTA, DISWAY.ID - Keberanian Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengungkapkan narasi Presiden Bodoh untuk Presiden Prabowo Subianto, mengundang cibiran dari para netizen kalau dirinya hanya lulusan paket C dari sekolah non formal. 

Diketahui, Tiyo Ardianto merupakan lulusan ijazah paket C dari sekolah non-formal Omah Dongeng Marwah besutan aktivis 98 Hasan Aoni. 

Tiyo sendiri tak masalah dirinya dicibir hanya lulusan paket C, hal itu sudah ia jawab dalam podcast YouTube Terus Terang Media. 

BACA JUGA:Kritik Kopdes Merah Putih, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto: Lagi-lagi Soal Simulacra

Di podcast itu, Tiyo bercerita, angkatan pertamanya hanya 5 orang, dengan konsep sekolah anak dan komunitas dan materinya berupa dongeng. 

Dikutip dari Facebook Hasan Aoni, sang aktivis 98 yang juga pendiri Omah Dongeng Marwah itu angkat bicara soal Tiyo yang dicibir hanya lulusan paket C. 

“Suatu ketika datang pejabat dari dinas pendidikan mencibir kami, "Sekolah kok muridnya segilintir. Seperti tidak niat mendirikan sekolah," katanya,” tulis Hasan Aoni. 

BACA JUGA:Awal Mula Botok dan Teguh Protes Bupati Pati Berujung Pidana, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Minta Hakim Adil

Belakangan, kata dia, setelah enam dari tujuh siswa angkatan pertama kami diterima di perguruan tinggi negeri, di Jateng dan DIY, mereka di mana-mana pidato.

"Tirulah seperti ODM. Muridnya sedikit, tapi serius membina murid-muridnya,” tulis Hasan Aoni. 

Terbukti, Tiyo Ardianto lulus masuk UGM dengan nilai UTBK 753. 

BACA JUGA:Pantesan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Kritis dan Kuliah Filsafat, Gaya Filsafat Nietzsche Buku Favorit di SMP

Hasan Aoni menyadari seperti hari ini masyarakat mencibir sekolah tingkat SMA Tiyo yang hanya paket C berani menyebut presiden "bodoh" seolah tanpa argumen dan solusi.

“Seperti itulah masyarakat masih memandang rendah sekolah non-formal macam kami. Sekolah yang dikembangkan dari konsep yang dulu dikenal homeschooling. Tapi, tahukah mereka? Pondok-pondok pesantren yang melahirkan banyak tokoh, secara administratif adalah sekolah non-formal,” katanya. 

“Lembaga ini dahulu oleh orang-orang kota dianggap sebagai sekolah gak karuan. Bukan sekolah keren macam sekolah global unggulan yang ada di kota-kota besar. Tetapi, yang gak karuan itu melahirkan Presiden Gus Dur yang sangat pintar, bukan?” katanya lagi.

BACA JUGA:Pantesan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Kritis dan Kuliah Filsafat, Gaya Filsafat Nietzsche Buku Favorit di SMP

Hasan Aoni menjelaskan bagaimana anak-anak Indonesia mengembangkan bakat kalau bercerita apa yang dia mau tertekan oleh kemauan orang tuanya sendiri? Keprihatinan itu mengawali ide ODM berdiri. 

“Kami hanya meniru. Ada yang lebih dahulu dan maju seperti yang diasuh Kang Din (Ahmad Bahruddin) di Qoryah Thoyyibah, Salatiga. Dia guru kami. Guru masyarakat Indonesia yang ingin anak-anaknya mandiri dan menemukan dirinya sendiri.  Memimpikan sekolah seperti dahulu Ki Hajar Dewantara mengajarkan tut wuri handayani. Atau Paulo Freire di kebun tebu mengajari petani dan anak-anaknya membaca dan berhasil merevolusi pendidikan di Brasil setelah itu,” katanya. 

BACA JUGA:Besar di Omah Dongeng Marwah Bentuk Pemikiran Kritis Tiyo Ardianto, Berani Kritik Program MBG Prabowo!

Ia mendukung apa yang dilakukan Tiyo dan maju terus meski pandangan orang lain mencibir mereka. 

“Anak-anak kami, biarlah kalian dianggap bodoh, yang penting tetap berkreasi, merendahkan hati, dan jangan sekali-kali oleh alasan apa pun kalian korupsi. Salam dongeng!”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads