Bertauhid Vertikal dan Horizontal ala Muhammadiyah
Prof Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Univeristas Islam Internasional Indonesia (UIII)-dok disway-
Fokus pada bidang unggulan seperti STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) serta kewirausahaan menjadi keniscayaan.
Di tengah kompetisi global berbasis inovasi, penguasaan sains dan teknologi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan fondasi utama bagi kemajuan peradaban.
Perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah perlu didorong untuk tidak hanya menjadi pusat transmisi pengetahuan, tetapi juga pusat produksi inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Di sinilah peran riset, inkubasi bisnis, dan kolaborasi dengan industri menjadi krusial agar ilmu tidak berhenti sebagai wacana, melainkan bertransformasi menjadi solusi nyata.
Dalam perspektif ini, tauhid tidak sekadar doktrin teologis, tetapi proyek peradaban yang menuntut integrasi antara iman, ilmu, dan amal.
Kesalehan tidak lagi cukup diukur dari intensitas ibadah, tetapi dari sejauh mana ia menghadirkan keadilan sosial, kesejahteraan ekonomi, dan kemajuan kolektif.
BACA JUGA:Mencegah Terjadi Second Disaster dari Bencana melalui Perbaikan Penanganan Kesehatan Kebencanaan
BACA JUGA: Muktamar ke-35 NU: KH Said Aqil Siroj Salah Satu yang Memenuhi Kriteria Ideal Rais Aam
Muhammadiyah memiliki warisan kuat untuk itu, tetapi warisan saja tidak cukup tanpa pembaruan berkelanjutan.
Pertanyaannya, apakah Muhammadiyah siap melampaui zona nyaman sebagai gerakan besar, dan benar-benar menjadi motor utama peradaban yang menghubungkan spiritualitas dengan kemajuan dunia nyata?
Prof Jamhari Makruf, Ph.D. (Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII))
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: