Bertauhid Vertikal dan Horizontal ala Muhammadiyah

Bertauhid Vertikal dan Horizontal ala Muhammadiyah

Prof Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Univeristas Islam Internasional Indonesia (UIII)-dok disway-

BACA JUGA:Tajdid Tata Kelola NU: Antara Modernisasi, Profesionalisme, dan Kapasitas

Pernyataan ini mengandung kritik mendalam bahwa nilai-nilai Islam sering kali hadir dalam praktik sosial Barat, sementara di dunia Muslim, Islam lebih dominan dalam simbol dan ritual.

Abduh menekankan pentingnya rasionalitas dan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kemajuan.

Pandangan ini menginspirasi Kyai Ahmad Dahlan dan menjadi dasar gerakan Muhammadiyah.

Dalam perspektif ini, agama tidak cukup dipahami secara tekstual atau atomistik, melainkan harus dibaca sebagai sistem nilai yang utuh.

Fazlur Rahman, dalam The Major Themes of the Qur’an, menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah panduan yang kohesif dan fungsional bagi kehidupan manusia.

Ia mengkritik pendekatan tafsir yang parsial dan menekankan pentingnya unified worldview untuk membangun masyarakat yang adil dan bermoral.

Inti dari pandangan ini adalah tauhid, sebuah prinsip kesatuan yang tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sosial.

BACA JUGA:Koperasi, Ekonomi Indonesia dan Relevansi Gen Z

BACA JUGA:Cycle of Civilization

Tauhid memiliki dua dimensi: vertikal dan horizontal.

Secara vertikal, tauhid berarti pengakuan total kepada Tuhan Yang Esa. Dalam bahasa Nurcholish Madjid, tauhid juga berarti desakralisasi terhadap segala bentuk “tuhan-tuhan kecil” kekuasaan, materi, atau manusia.

Secara horizontal, tauhid melahirkan prinsip kesetaraan manusia.

Jika hanya Tuhan yang absolut, maka tidak ada manusia yang berhak menindas manusia lain.

Dalam tradisi Muhammadiyah, dimensi ini tampak jelas.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads