Bertauhid Vertikal dan Horizontal ala Muhammadiyah
Prof Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Univeristas Islam Internasional Indonesia (UIII)-dok disway-
Tidak ada kultus individu, karena semua manusia dipandang setara.
Toleransi terhadap perbedaan menjadi konsekuensi logis dari pemahaman tauhid yang inklusif.
BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: Gus Yusuf Chudlori Sosok Santri Tulen, Magnet Massa, dan Harapan Baru PBNU
BACA JUGA:Pameran Otomotif, Merek Mobil Bertambah dan Sinyal Ekonomi 'Rojali'
Kyai Ahmad Dahlan menegaskan hal ini melalui teologi al-Ma’un.
Tauhid harus diwujudkan dalam tindakan nyata membantu kaum miskin, mengembangkan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan memperjuangkan keadilan sosial.
Agama tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus hadir sebagai solusi bagi persoalan kemanusiaan.
Dalam konteks kekinian, gagasan kemajuan menjadi sangat penting.
Dunia berubah cepat, dan agama harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Kemajuan bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan.
Tanpa pembaruan, agama berisiko kehilangan relevansi.
BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: KH Kafabihi Mahrus Pilihan Tepat Untuk Rais Aam PBNU
BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: KH Afifuddin Muhajir Adalah Jawaban dan Arus Utama Kepemimpinan PBNU
Kemajuan menuntut rasionalitas. Keputusan harus berbasis data, analisis, dan argumentasi yang kuat.
Dalam praktik Muhammadiyah, hal ini terlihat dalam pengembangan pendidikan, pendirian sekolah atau universitas didasarkan pada riset kebutuhan masyarakat, bukan sekadar intuisi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: