Selat Hormuz Ditutup, Menteri Bahlil Ungkap Kondisi Stok Minyak di Indonesia

Selat Hormuz Ditutup, Menteri Bahlil Ungkap Kondisi Stok Minyak di Indonesia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, meski jalur strategis tersebut terganggu, pasokan energi nasional dalam kondisi terkendali--Nungki Kartika Sari

JAKARTA, DISWAY.ID - Pemerintah mewaspadai dampak penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, meski jalur strategis tersebut terganggu, pasokan energi nasional dalam kondisi terkendali.

“Hari ini saya didampingi oleh Pak Satya, anggota DEN, dan Pak Wamen. Kami baru selesai melakukan rapat DEN khusus membahas tentang dinamika global yang terkait dengan energi,” ujar Bahlil usai rapat Dewan Energi Nasional (DEN), Selasa (3/3).

BACA JUGA:Waduh! 25% Impor Minyak RI dari Selat Hormuz Iran, Bahlil Siapkan Skenario

Menurut Bahlil, rapat tersebut berlangsung selama dua jam dan menjadi rapat perdana DEN atas arahan Presiden untuk merespons cepat perkembangan geopolitik global.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.

“Teman-teman semua kita tahu bahwa Selat Hormuz sekarang lagi ditutup akibat dinamika perang antara Israel, Amerika, dan Iran. Dan ini dampaknya tidak hanya pada dampak perang tapi juga berdampak pada energi global,” katanya.

BACA JUGA:Apa Itu Selat Hormuz yang Ditutup Pasca Iran Diserang Israel-AS? Ini Dampaknya Bagi Indonesia

Ia menjelaskan, sekitar 20,1 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz.

Angka tersebut menjadikan kawasan itu sebagai chokepoint paling strategis dalam perdagangan energi dunia.

“Di Selat Hormuz itu melewati kurang lebih sekitar 20,1 juta barrel per day. Jadi Selat Hormuz itu supply global itu 20,1 juta barrel per day,” tegas Bahlil.

BACA JUGA:Korps Garda Revolusi Iran Sita Kapal Kontainer Israel di Selat Hormuz, Setelah Ancam Tutup Jalur Laut

Meski demikian, Bahlil memastikan ketergantungan Indonesia terhadap jalur tersebut relatif terbatas.

Dari hasil pendalaman dalam rapat, impor minyak mentah (crude) Indonesia dari kawasan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz hanya sekitar 20–25 persen dari total impor nasional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads