IHSG Sesi II Ditutup Merosot, Analis Sebut Dampak Geopolitik Jadi Biang Kerok

IHSG Sesi II Ditutup Merosot, Analis Sebut Dampak Geopolitik Jadi Biang Kerok

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri Sesi II nya dengan terkoreksi 259,62 poin, atau melemah 3,42 persen ke level 7.326,07-Disway.id/Bianca Khairunnisa-

JAKARTA, DISWAY.ID - Setelah dibuka dengan berada di zona merah pada pembukaan perdagangan Senin (09/03) ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri Sesi II nya dengan terkoreksi 259,62 poin, atau melemah 3,42 persen ke level 7.326,07.

Pelemahan ini sendiri melanjutkan kondisi IHSG pada penutupan Sesi I sebelumnya pada hari yang sama, yang turut terkoreksi sebesar 3,49 persen atau 264 poin ke level 7.321.

BACA JUGA:Update Longsor di Bantargebang, Satu Korban Lagi yang Tertimbun Sampah Ditemukan

BACA JUGA:Purnawirawan Polri pun Heran Kenapa Polisi Hobi Tersangkakan Korban

Di sisi lain, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 pun juga turut ditutup dengan menunjukkan penurunan sebanyak 24,57 poin, atau turun 3,17 persen ke posisi 751,48.

Menurut data PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, pelemahan IHSG ini sendiri juga turut dipengaruhi oleh konflik geopolitik yang berkepanjangan.

Menurut Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, sentimen negatif sendiri disebabkan oleh aksi jual beli oleh investor akibat kekhawatiran konflik geopolitik di Timur Tengah yang berkepanjangan.

BACA JUGA:Ini Poin-poin Kesepakatan Damai Nabilah O'Brien dan Zendhy Kusuma di Bareskrim

BACA JUGA:Pria Tewas Ditabrak Mobil di Tol Sediyatmo, Polisi Cek Kamera Pengawas

"Volatilitas pasar meningkat akibat sentimen geopolitik global yang mendorong aksi jual," jelas Priyambada kepada Disway, pada Senin, 9 Maret 2026. 

Di sisi lain, hal serupa pun juga turut terjadi kepada indeks utama bursa AS Bursa saham Wall Street, yang ditutup mayoritas melemah. 

Menurut Priyambada, sentimen negatif disebabkan data initial jobless claims (klaim pengangguran) AS yang baru dirilis menunjukkan angka 213.000 atau hanya sedikit lebih baik dari ekspektasi pasar sebesar 215.000.

"Data ini tidak cukup kuat untuk memberikan gairah pada pasar saham," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads