Investigasi BPOM: Takjil Berformalin Paling Banyak Ditemukan di Sumatera Selatan

 Investigasi BPOM: Takjil Berformalin Paling Banyak Ditemukan di Sumatera Selatan

BPOM RI mencatat bahwa penganan takjil berformalin banyak ditemukan di Wilayah Sumatera Selatan-Disway.id/Hasyim Ashari-

JAKARTA, DISWAY.ID - Berburu takjil sudah menjadi ritual wajib bagi masyarakat Indonesia menjelang waktu berbuka puasa.

Namun, di balik deretan menu segar yang menggugah selera, tersimpan ancaman kesehatan yang sangat serius.

BACA JUGA:Abu Janda Diskakmat Feri Amsari soal Israel, Malu Bukan Main usai Diusir Aiman!

BACA JUGA:Jangan Panic Buying! BULOG Pastikan Stok Beras dan Minyak hingga Akhir 2026 Aman dan Terkendali

Berdasarkan hasil investigasi terbaru Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di 513 titik seluruh Indonesia, Sumatera Selatan (Sumsel) menduduki posisi puncak sebagai wilayah dengan temuan takjil paling berbahaya.

Temuan ini bukan sekadar isapan jempol. Dari ratusan sampel yang diambil petugas di lapangan, wilayah Sumsel mencatatkan angka pelanggaran tertinggi.

Parameter bahayanya pun tidak main-main: mayoritas kudapan yang dijual mengandung zat pengawet mayat alias formalin.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan sedikitnya 27 sampel makanan di Sumatera Selatan yang dinyatakan Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK).

BACA JUGA:Darurat Pangan Ilegal di Jakarta, BPOM Temukan Banyak Pelanggaran Saat Sidak

Angka ini menjadi raport merah bagi keamanan pangan di wilayah tersebut dibandingkan daerah-daerah lain yang disidak secara serentak.

​"Temuan tertinggi ada di Sumatera Selatan. Ada 27 sampel yang bermasalah, dan mayoritas parameternya adalah kandungan formalin," ujar Taruna saat ditemui di kantor BPOM, Rabu 11 Maret 2026.

Berbeda dengan kondisi di Sumatera Selatan, wilayah Jakarta justru menunjukkan tren positif. Kolaborasi antara Balai POM dengan Dinas Kesehatan setempat di titik-titik keramaian seperti Pasar Rebo menunjukkan hasil negatif formalin maupun zat pewarna tekstil (Rhodamin B).

BACA JUGA:Viral Surat Pemprov 'Minta Takjil' ke Perusahaan Tambang hingga Kadis ESDM Kaltim Beri Klarifikasi

​Namun, Taruna mengingatkan bahwa para pelaku "nakal" kini mulai cerdik mencari celah. Jika di pusat kota edukasi sudah masif, mereka cenderung bergeser ke wilayah grosir atau titik-titik pinggiran yang pengawasannya mungkin dianggap lebih longgar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait