Indonesia Naik Peringkat Gender Gap, Tapi Masalah Ini Masih Jadi PR Besar
Isu tersebut menjadi sorotan dalam Forum Perempuan bertajuk “Rights. Justice. Action. Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan” yang diselenggarakan FNM Society bekerja sama dengan Takeda dalam rangka memperingati Hari Perempuan Inter--istimewa
JAKARTA, DISWAY.ID - Indonesia mencatat kemajuan dalam kesetaraan gender dengan naik tiga peringkat ke posisi 97 dunia dalam laporan Global Gender Gap 2025.
Meski demikian, sejumlah tantangan struktural masih menjadi pekerjaan rumah besar, mulai dari praktik perkawinan usia dini hingga penguatan peran perempuan dalam kepemimpinan dan kesehatan masyarakat.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam Forum Perempuan bertajuk “Rights. Justice. Action. Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan” yang diselenggarakan FNM Society bekerja sama dengan Takeda dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026.
Forum ini menghadirkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga sektor swasta untuk mendorong kepemimpinan perempuan dalam memperkuat kesehatan masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
BACA JUGA:Pemberdayaan Perempuan Picu Dampak Berantai
Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, Farid Nila Moeloek (FNM) Society berkolaborasi dengan Takeda menyelenggarakan Forum Perempuan bertajuk “Rights. Justice. Action. Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan”.
Forum ini menjadi wujud nyata upaya kolektif dan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, LSM dan akademisi dalam rangka mewujudkan kepemimpinan perempuan dalam memperkuat kesehatan masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Arifah Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia untuk memastikan perempuan dan anak perempuan memperoleh perlindungan dan kesempatan berpartisipasi secara setara dalam pembangunan nasional.
BACA JUGA:Komnas Perempuan Kolaborasi Bareng Menpora Cegah Kekerasan Seksual di Lingkungan Olahraga
“Kemajuan perempuan harus dimulai dari pemenuhan hak-hak dasar, dilanjutkan dengan penegakan keadilan, dan diwujudkan melalui aksi nyata dalam kebijakan dan program pembangunan berkelanjutan. Salah satu prinsip penting dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan adalah kesetaraan gender. Artinya, perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, akses, partisipasi, serta kontrol yang setara terhadap sumber daya dan manfaat pembangunan. Berbagai studi menunjukkan pemberdayaan perempuan berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan ibu dan anak, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat.”
Pendiri dan Ketua FNM Society sekaligus Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M(K), menekankan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat program kesehatan, melainkan penggerak perubahan.
“Hari Perempuan Internasional adalah momentum untuk melihat perempuan sebagai pemimpin dan agen perubahan. Kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar hak dan keadilan benar-benar terwujud dalam tindakan nyata,” kata Prof. Nila.
BACA JUGA:Polisi Selidiki Kasus Pelecehan Seksual Anak Perempuan 1 Tahuh oleh Tetangga Sendiri
dr. Lovely Daisy, MKM, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga, Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Kementerian Kesehatan RI, menekankan pentingnya penguatan sistem kesehatan berbasis pencegahan dan keterlibatan komunitas.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: