Lelah dan Keringat Warsito Jadi Berkah Mudik, Porter Stasiun Gambir Raup Cuan
Warsito, Koordinator Porter Stasiun Gambir, mengungkapkan bahwa geliat ekonomi para penyedia jasa panggul ini mulai terasa signifikan sejak tiga hari terakhir.--Hasyim Ashari
JAKARTA, DISWAY.ID – Di balik keriuhan pemudik yang berbondong-bondong memadati Stasiun Gambir, ada senyum tipis yang terselip di wajah para porter.
Bagi mereka, peluh yang bercucuran saat memanggul koper-koper berat adalah simbol keberkahan.
Arus mudik tahun ini terbukti membawa angin segar bagi kantong mereka yang selama ini hanya mengandalkan kemurahan hati penumpang.
Warsito, Koordinator Porter Stasiun Gambir, mengungkapkan bahwa geliat ekonomi para penyedia jasa panggul ini mulai terasa signifikan sejak tiga hari terakhir.
BACA JUGA:Arus Mudik di Bali, Antrean Kendaraan Mengular di Pelabuhan Gilimanuk
Lonjakan jumlah penumpang yang datang silih berganti membuat jasa mereka kian diburu.
"Kalau ditanya peningkatan, ya ada. Kurang lebih 30 sampai 40 persen peningkatannya dibandingkan hari biasa," ujar Warsito kepada awak media, Senin 16 Maret 2026.
Peningkatan pendapatan ini menjadi sangat berarti mengingat status para porter yang unik.
Warsito blak-blakan menyebut bahwa meski bekerja di bawah naungan pimpinan stasiun, sebanyak 240 porter di Gambir sama sekali tidak menerima gaji tetap dari PT KAI.
Setiap rupiah yang mereka bawa pulang murni berasal dari uang tip atau jasa sukarela dari para pemudik.
Tak ada tarif baku, tak ada paksaan. Kondisi inilah yang membuat momen mudik Lebaran selalu dinanti sebagai masa "panen" setelah bulan-bulan biasa yang sering kali sepi peminat.
"Kita tidak ada gaji dari KAI, murni mengandalkan uang tip dari penumpang. Makanya kalau pas ramai begini, meski capeknya luar biasa, kita merasa lega karena penghasilan bertambah," tambah pria yang menjadi tumpuan rekan-rekannya di stasiun tersebut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: