BI Tahan Suku Bunga di 4,75%, Sinyal Bahaya dari Konflik Timur Tengah
Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan bahwa keputusan ini juga diambil dengan mempertimbangkan kondisi keuangan di tengah-tengah memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah.--YouTube Bank Indonesia
JAKARTA, DISWAY.ID - Dalam upayanya untuk mempertahankan sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia (BI) secara resmi telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di kisaran 4,75 persen.
Keputusan tersebut sendiri diambil dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, yang diselenggarakan secara daring pada Selasa 17 Maret 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan bahwa keputusan ini juga diambil dengan mempertimbangkan kondisi keuangan di tengah-tengah memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah.
BACA JUGA:Isu Penutupan Ruang Udara di Timur Tengah, KP2MI Pastikan Tak Ada PMI Tertahan
"Keputusan ini diambil menilai ekskalasi Perang Timur-Tengah, termasuk untuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional," tutur Perry.
Lebih lanjut, Perry juga turut menambahkan bahwa keputusan ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5±1 persen, dengan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal.
"Penguatan efektif transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap penurunan suku bunga perbankan terus ditempuh guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," ujar Perry.
BACA JUGA:Konflik Timur Tengah Effect, Pekerja Migran yang Pulang Kampung Tahun Ini Diprediksi Lebih Ramai
"Sehingga, upaya bank untuk mengurangi pembelian spesial rate kepada deposen besar yang sama ini mencapai 26,6 persen dari total DPK perlu terus dilanjutkan. Transmisi penurunan suku bunga, dana kepenurunan suku bunga kredit perbankan juga terus diperkuat," tambahnya.
Sementara itu pada sisi non-tunai, Bank Indonesia juga terus menjaga ketersediaan, keandalan, dan keamanan infrastruktur SPPI, baik retail maupun wholesale, serta infrastruktur sistem pembayaran industri.
BACA JUGA:Eskalasi Geopolitik Timur Tengah, PIEP Evakuasi 19 Perwira Pertamina dari Irak dan Dubai
Pada sisi tunai sendiri, Bank Indonesia menjamin ketersediaan perkembangan ini ditandai dengan likuditas perbankan yang memadai, kapasitas permodal yang terjaga pada level tinggi dan risiko kredit yang tetap rendah.
"Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sekali lagi kebijakan makro akan kami terus tempuk untuk mendorong kredit dan perbakan untuk pertumbuhan ekonomi dan juga ekspansi likiditas moneter," tutup Perry.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: