Kemendikdasmen Sebar Ribuan Buku Gratis di Stasiun, Ubah Mudik Jadi Petualangan Literasi
Mudik Asyik Baca Buku (MABB) 2026 di Stasiun Senen, Jakarta.-Dody Suryawan-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Momentum mudik Lebaran 2026 kali ini terasa berbeda di simpul-simpul transportasi Jakarta. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan program Mudik Asyik Baca Buku (MABB) 2026.
Sebuah langkah taktis untuk "menyapih" anak-anak dari ketergantungan gawai selama perjalanan panjang menuju kampung halaman.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa membangun budaya baca tidak bisa dilakukan dengan paksaan, melainkan melalui pendekatan yang menyenangkan dan kontekstual.
BACA JUGA:Momen Gibran Cek 'Dapur' Kendali Arus Mudik Nyepi dan Lebaran 2026 di JMTC Bekasi
Ia ingin mengubah paradigma belajar yang kaku menjadi aktivitas yang menggugah imajinasi.
“Anak-anak harus dibiasakan memahami isi bacaan, lalu mengekspresikannya dalam tulisan. Kita dorong sekolah mengubah pola, dari sekadar mengerjakan LKS menjadi aktivitas membaca dan menulis ulasan sederhana. Ini penting untuk literasi yang utuh,” ujar Abdul Mu'ti saat meninjau langsung di Stasiun Pasar Senen, Selasa (17/3).
Program MABB 2026 hadir secara masif di sembilan titik strategis, termasuk Stasiun Gambir dan Pasar Senen.
Di Stasiun Gambir saja, tersedia sedikitnya 2.700 buku bacaan berkualitas yang bisa dibaca di tempat atau dibawa pulang secara cuma-cuma oleh para pemudik cilik.
Tak hanya bagi-bagi buku, Kemendikdasmen juga menyulap sudut stasiun menjadi area kreatif, meliputi:
- Pojok Baca: Ruang nyaman untuk menikmati literasi di tengah hiruk pikuk stasiun.
- Sesi Mendongeng: Aktivitas narasi interaktif yang menarik minat anak.
- Membaca Nyaring (Read Aloud): Teknik membaca untuk melatih pemahaman dan rasa percaya diri.
- Permainan Edukatif: Menghilangkan kebosanan saat menunggu keberangkatan kereta.
Sekretaris Badan Bahasa, Ganjar Harimansyah, menilai bahwa ruang publik seperti stasiun memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi.
Menurutnya, minat baca anak Indonesia sebenarnya sangat tinggi, asalkan difasilitasi dengan buku yang menarik dan lingkungan yang mendukung.
“Ruang publik adalah sarana efektif. Jika akses buku dipermudah, anak-anak akan dengan sendirinya memilih membaca,” ungkap Ganjar.
Inisiatif ini pun mendapat jempol dari para orang tua pemudik. Banyak dari mereka merasa terbantu karena anak-anak menjadi lebih aktif dan tidak lagi merengek meminta ponsel. Pengalaman belajar di tengah perjalanan mudik memberikan warna baru yang lebih bermakna bagi keluarga.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: