Viral Tunik PGC vs Dompet Diet Ketat, Siasatnya Nekat Mudik 2026
Porter di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, raup rezeki dari arus mudik.--Fajar Ilman
Geser sedikit dari PGC. Saya menemui Rian, 29 tahun. Dia bukan pedagang, dia "korban" inflasi. Bekerja di kawasan Sudirman yang mentereng, Rian justru sedang pusing tujuh keliling.
"Jujur saja, tahun ini rasanya ekonomi lagi lesu-lesunya. Semua serba mahal," curhat Rian.
Siasatnya ekstrem: Absen beli baju baru. "Pakaian tahun lalu masih bagus, itu saja yang dipakai," katanya. Bagi Rian, uang untuk beli sepatu baru lebih baik dialihkan menjadi "sangu" untuk orang tuanya di Solo. Dia memilih mengalah pada gaya demi menjaga bakti.
Lalu ada Dewi, pemilik kafe di Jakarta Timur. Dia lebih "nekat" lagi. Demi menghemat ongkos mudik yang melambung, dia dan suaminya memutuskan mudik pakai sepeda motor. Sebuah pilihan berisiko tinggi, tapi masuk akal secara finansial.
Ilustrasi pedagang pakaian lebaran di Pasar Tanahabang-- Bianca Khairunnisa
"Kondisi sekarang barang pokok itu emas. Jadi kado terindah ya sembako lengkap buat stok orang tua sebulan ke depan," ujar Dewi.
Bagi Dewi, membawa satu jeriken minyak goreng ke kampung halaman lebih membanggakan daripada memakai tunik viral di PGC.
BACA JUGA:Manuver Perppu Defisit APBN untuk Selamatkan Perut Rakyat
Faisal, wiraswasta kawakan, punya trik lain: Mudik H-10. Dia mencuri start sebelum harga tiket kereta dan bus mencapai puncak kegilaannya. Dia sadar, tabungannya bisa "boncos" kalau memaksakan diri mudik di hari puncak.
"Yang penting silaturahminya tetap terjaga, meskipun jatah 'sangu' buat keponakan mungkin nggak sebesar tahun lalu," tuturnya sambil tersenyum getir.
Rian, Dewi, dan Faisal adalah potret kita semua. Masyarakat yang harus memutar otak agar tradisi tidak mati, tapi dapur tetap berasap.
Kekhawatiran masyarakat ini bukan tanpa alasan. Para pengusaha yang tergabung dalam Kadin Indonesia juga sedang waswas.
Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, mengakui bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah bukan sekadar tontonan di TV.
Dampaknya sistemik. Harga minyak dunia bisa naik kapan saja. Rupiah pun ikut loyo. Belum lagi urusan suku bunga yang bikin cicilan terasa makin mencekik.
"Semoga semua ini bisa kita tanggulangi dengan baik seperti krisis-krisis sebelumnya," kata Anindya. Dia mencoba meniupkan angin segar. Katanya, Kadin tetap kompak dan semangat. Indonesia punya pengalaman melewati berbagai krisis.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: