Terungkap! Prabowo Beberkan Alasan Indonesia Gabung di BoP
Prabowo juga mengatakan, Indonesia tak akan segan angkat kaki dari BoP tanpa perlu konsultasi dengan anggota lainnya jika hasil-hasil keputusannya tidak sejalan dengan kepentingan Indonesia atau Palestina. -Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Presiden Prabowo Subianto akhirnya menjelaskan alasan Indonesia dan tujuh mayoritas berpenduduk muslim lainnya bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP).
Hal itu diungkapkan Presiden Prabowo, dalam diskusi dengan sejumlah pakar dan jurnalis senior di Hambalang Bogor, Jawa Barat, pada Selasa 17 Maret 2026.
BACA JUGA:Cerita Purbaya Yudhi Sadewa: Lebaran Pertama Jadi Menteri Lebih Berat, Sampai Sulit Tidur
BACA JUGA:Ancol Siaga Penuh Hadapi Lonjakan Wisatawan Lebaran, Pengelola: 500 Personel Dikerahkan!
Pada kesempatan itu, Presiden mengundang para jurnalis senior untuk berdiskusi yang dimoderasi oleh mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi.
Seperti dikutip dari rekaman videonya tayang pada Kamis (19/3/2026), Presiden menjelaskan keputusan Indonesia bergabung dengan BoP dilakukan setelah melalui pertimbangan matang, dengan tujuan mendukung kemerdekaan penuh Palestina.
Secara kronologi, Prabowo Subianto menerangkan awal keterlibatan Indonesia dalam pembentukan BoP bermula pada 23 September 2025, saat dirinya menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat (AS).
BACA JUGA:CEO Oseng Endok Terjun ke Lokasi Kebakaran Cabang Margonda Depok, Ungkap Situasi Terkini
BACA JUGA:Arsenal Incar Pemain Berbakat Bundesliga Rp1,3 Triliun, 2 Target Newcastle dalam Radar The Gunners
Saat itu, Prabowo menegaskan bahwa dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sekaligus mendorong solusi dua negara (two-state solution).
Beberapa jam kemudian, lanjutnya, Prabowo bersama tujuh pemimpin negara mayoritas Muslim dalam Group of Eight, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir, diundang Presiden AS Donald Trump dalam sebuah pertemuan.
Dalam pertemuan tersebut, Trump disebut meminta negara-negara itu untuk mendukung 21-point plan, yakni proposal untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan di Gaza.
Menurut Kepala Negara, rincian poin-poin tersebut dibacakan satu per satu oleh utusan khusus AS Steve Witkoff.
Presiden Prabowo kemudian mendengarkan secara saksama proposal tersebut dan tertarik pada poin ke-19 dan ke-20, yang menjelaskan bahwa Palestina akan diberikan jalan untuk menjadi bangsa mandiri dan mampu menentukan masa depannya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: