Diskon Listrik 2026 Dihapus? Ekonom Ingatkan Ancaman Kenaikan Inflasi
Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menyatakan bahwa wacana penghapusan diskon listrik 2026 bukan hanya faktor tambahan, melainkan ikut menjadi kontributor "shock" pada harga yang sifatnya langsung atau admi--Bianca Khairunnisa
JAKARTA, DISWAY.ID - Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menyatakan bahwa wacana penghapusan diskon listrik 2026 bukan hanya faktor tambahan, melainkan ikut menjadi kontributor "shock" pada harga yang sifatnya langsung atau administered price adjustment.
"Ketika diskon dicabut, maka akan ada base effect, lalu harga ditekan karena masih ada diskon, tahun ini akan “melonjak” kalau diskonnya dicabut. Lalu akan ada direct impact ke indeks harga konsumen (IHK)," jelas Ronny ketika dihubungi oleh Disway, pada Selasa 25 Maret 2026.
BACA JUGA:Peniadaan Diskon Tarif Listrik 2026, Ekonom Khawatir Ancaman Inflasi dan Tekanan Sektor Produktif
Dalam hal ini, Ronny juga menyoroti struktur inflasi Indonesia, di mana listrik masuk komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices).
"Yang sering dikesampingkan adalah, adanya second-round effect, di mana biaya produksi naik, harga barang/jasa ikut naik)," pungkasnya.
Lebih lanjut, Ronny juga turut menambahkan bahwa dari sisi psikologis, peniadaan diskon listrik ini sendiri juga justru dapat membawa bahaya sendiri.
BACA JUGA:PLN Berhasil Amankan Pasokan Listrik Nasional Saat Salat Idulfitri 1447 H
"Tagihan listrik naik, masyarakat merasa “semua mahal”, ini bisa memicu inflation expectation, yang justru berbahaya. Jadi kalau pemerintah bilang “ini hanya faktor sementara”, ya benar secara teknis, tapi kurang jujur dari sisi dampak sosial-ekonominya," tutur Ronny.
"Secara statistik, mungkin terlihat “terkendali”. Tapi secara realitas, saya yakin akan terasa signifikan, terutama bagi kelas menengah bawah. Kenapa? Karena listrik itu quasi-basic necessity (kebutuhan hampir tak bisa dikurangi). Berbeda dengan cabai atau tiket pesawat, konsumsi listrik relatif rigid," tambahnya.
BACA JUGA:Sistem Kelistrikan PLN Sumatera Utara Andal, Siap Layani Periode Idul Fitri 2026
Sebelumnya, Menko Airlangga menyatakan bahwa tanpa pemberian subsidi tersebut, pengeluaran masyarakat untuk listrik kembali normal dan berdampak pada kenaikan inflasi dibanding tahun lalu.
Menurutnya, walaupun ada tekanan inflasi, pemerintah tetap percaya diri terhadap kondisi ekonomi nasional. Menurut Airlangga, momen Ramadan dan Lebaran menjadi faktor penting yang mendorong konsumsi masyarakat.
“Target 5,5 persen bisa dicapai dari geliat selama Ramadhan,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: