Idul Fitri di Persimpangan Zaman

Idul Fitri di Persimpangan Zaman

Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia, Prof. Jamhari Makruf-Dok. UIII-

Idul Fitri tidak hanya memiliki dimensi religius, tetapi juga dimensi sosial yang sangat kuat. Ia menjadi ruang pertemuan berbagai lapisan masyarakat, di mana perbedaan latar belakang seolah mencair dalam suasana kebersamaan. Tradisi saling mengunjungi, berbagi makanan, serta mempererat hubungan sosial menjadikan lebaran sebagai momentum kohesi sosial yang khas. 

Di Indonesia, dimensi ini terasa sangat nyata. Lebaran bukan sekadar perayaan keluarga, tetapi juga ajang rekonsiliasi sosial yang lebih luas. Ketegangan dan konflik yang mungkin terjadi sepanjang tahun diredam melalui tradisi saling memaafkan, sehingga hubungan sosial dapat diperbarui dalam suasana yang lebih hangat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa agama tidak hanya berfungsi sebagai sistem keyakinan, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang memperkuat solidaritas. Idul Fitri menjadi momen ketika nilai-nilai spiritual—seperti keikhlasan, empati, dan kasih sayang—diterjemahkan dalam praktik sosial yang konkret.

BACA JUGA:Ketika Media Menggugat Dirinya Sendiri, Dahlan Iskan adalah Jawa Pos (2 End)

Namun, perubahan zaman membawa tantangan tersendiri. Modernisasi, urbanisasi, dan digitalisasi telah mengubah cara masyarakat merayakan lebaran. Tradisi yang dahulu dilakukan secara kolektif kini cenderung menjadi lebih individual. Interaksi tatap muka semakin berkurang, digantikan oleh komunikasi digital yang serba cepat dan praktis.

Meski demikian, esensi lebaran tidak seharusnya hilang. Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperluas silaturahmi, bukan menggantikan kehangatan hubungan manusia. Tantangan utama hari ini bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi menemukan cara baru agar nilai-nilai kebersamaan tetap hidup di tengah perubahan zaman yang tak terhindarkan.

Riyaya dan Perekat Peradaban

Dalam bukunya The Religion of Java, Clifford Geertz menyebut Idul Fitri sebagai riyaya, sebuah peristiwa budaya yang menyatukan masyarakat Jawa. Geertz mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kategori: abangan, santri, dan priyayi. Masing-masing memiliki latar belakang keagamaan dan sosial yang berbeda.

Namun, di tengah perbedaan itu, Idul Fitri menjadi titik temu. Semua kelompok merayakannya bersama. Riyaya menjadi mekanisme sosial yang menghapus batas-batas perbedaan dan memperkuat rasa kebersamaan. Bagi Geertz, kekuatan Idul Fitri terletak pada kemampuannya menyatukan masyarakat yang beragam. Ia bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga peristiwa sosial yang memperkuat identitas kolektif.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, makna ini menjadi semakin relevan. Idul Fitri adalah momentum untuk mengingat bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.

Perubahan zaman mungkin menggeser bentuk perayaan, tetapi makna dasarnya tetap sama. Idul Fitri adalah tentang kembali—kembali kepada kesucian, kembali kepada hubungan yang baik dengan sesama, dan kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan individualistis, Idul Fitri mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada kehangatan relasi antarmanusia.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: