Perbandingan Kandungan Rokok dan Vape Sesuai Penelitian BRIN dan Jurnal Internasional

Perbandingan Kandungan Rokok dan Vape Sesuai Penelitian BRIN dan Jurnal Internasional

Ilustrasi vape dan perbandingannya dengan rokok-Kementerian Kesehatan RI-ayosehat.kemkes.go.id

JAKARTA, DISWAY.ID - Rokok dan vape atau rokok elektrik sering menjadi bahan penelitian baik dari dalam negeri dan juga jurnal internasional.

Kesadaran akan kesehatan kini makin berkembang, termasuk di kalangan perokok dewasa yang mulai mencari alternatif untuk mengurangi dampak negatif dari kebiasaan merokok, seperti rokok elektronik atau yang sering disebut sebagai vape, produk tembakau dipanaskan dan kantong nikotin.

Ketua Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok, Garindra Kartasasmita, menjelaskan perbedaan antara rokok elektronik dan rokok adalah dari proses penggunaannya. 

“Perbedaan paling signifikan adalah prosesnya. Rokok itu dibakar, sedangkan rokok elektronik melalui sistem pemanasan. Pembakaran itulah yang membuat risikonya sangat berbeda,” ujar Garindra dalam diskusi publik bertajuk Ngobrol Santai Bareng GEBRAK: Kenal Lebih Dekat Produk Tembakau Alternatif dan Cara Pakainya Secara Bertanggung Jawab belum lama ini.

BACA JUGA:Profil Bos Rokok HS Muhammad Suryo dan Gurita Bisnisnya, Dipanggil KPK Usai Kehilangan Istri

Melalui sistem pemanasan, rokok elektronik memanaskan cairan yang mengandung ekstak nikotin menjadi uap.

Rokok elektronik menyalurkan nikotin dengan profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok. 

Menurut Garindra, pemahaman mengenai perbedaan tersebut penting agar perokok dewasa dapat mengambil keputusan yang lebih sadar.

Meski demikian, ia menekankan bahwa penggunaan produk tembakau alternatif tetap membutuhkan tanggung jawab dari penggunanya.

“Sebagai pengguna produk tembakau alternatif, kita harus tahu tempat dan waktu. Jangan sampai uap itu mengganggu orang lain. Minimal kalau ngehembusin uapnya itu ke atas, dan kalau di tempat sempit atau dekat orang lain, sebaiknya minta izin,” tambahnya.

BACA JUGA:Bos Rokok HS 'M. Suryo' Mangkir Panggilan KPK, Pengamat: Gak Ada yang Kebal Hukum di Negeri Ini!

Penelitian BRIN dan Jurnal Internasional

Sejumlah kajian memperkuat perbedaan profil risiko pada rokok elektronik ini. Dari dalam negeri, penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berjudul Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants dan Evaluation and meta analysis of HTP testing method in harm reduction, menunjukkan produk tembakau alternatif memiliki profil toksikan lebih rendah dibandingkan rokok karena tidak melalui proses pembakaran, dengan kadar toksikan yang lebih rendah berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hal ini sejalan dengan kajian ilmiah internasional yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet bertajuk ”Functionally important respiratory symptoms and continued cigarette use versus e-cigarette switching: population assessment of tobacco and health study waves 2-6”.

Studi kohort observasional yang melibatkan lebih dari 5.600 perokok dewasa di Amerika Serikat ini melaporkan bahwa beralih sepenuhnya dari rokok konvensional (yang dibakar) ke penggunaan rokok elektronik atau vape selama 30 hari menunjukkan perbaikan jangka pendek pada fungsi pernapasan yang fungsional, bahkan menunjukkan hasil serupa dengan efek yang diamati pada individu yang berhenti merokok sepenuhnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait