Dokter Spesialis Anak Ungkap Bahaya Tersembunyi Timbal, Orangtua Wajib Waspada

Dokter Spesialis Anak Ungkap Bahaya Tersembunyi Timbal, Orangtua Wajib Waspada

Dokter Spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A.--Ngobras

Misalnya dari debu rumah, serpihan cat lama, tanah yang terkontaminasi, atau material tertentu di lingkungan hunian dan fasilitas publik. 

“Karena sifatnya yang akumulatif, paparan jangka panjang meskipun dalam kadar rendah tetap dapat berdampak terhadap kesehatan tubuh,” imbuh dr. Reza.

BACA JUGA:Kemenkes Perkuat Tim Medis Bencana: Tambahan Dokter Spesialis Anak hingga Bedah Dikerahkan ke Lokasi Banjir

Regulasi Cat Bebas Timbal

WHO telah merekomendasikan batas kandungan timbal dalam cat di bawah 90 ppm (parts per million). 

Acuan ini banyak diadopsi secara global sebagai standar.

Indonesia sendiri telah memiliki regulasi untuk memastikan keamanan material bangunan. Standar Nasional Indonesia (SNI) 8011:2014 beserta revisinya, termasuk SNI 8011:2022, mengatur cat dekoratif berbasis pelarut dan membatasi kandungan zat berbahaya, termasuk timbal. 

Standar ini selaras dengan acuan keamanan internasional yang diakui secara luas, meskipun saat ini penerapannya masih bersifat sukarela.

Di tingkat akar rumput, kesadaran terhadap paparan timbal di Indonesia juga masih perlu ditingkatkan.

BACA JUGA:Bahaya Gondongan pada Anak, Dokter Spesialis Anak: Picu Komplikasi hingga Kehilangan Pendengaran

Berdasarkan Studi Bank Dunia (2023), sebanyak 44,8% masyarakat tinggal di rumah yang menggunakan cat dengan kandungan timbal.

Biasanya ditemukan pada cat dekoratif seperti cat besi dan kayu.

Secara global, makin banyak negara, baik di level pemerintah, industri, hingga pemangku kepentingan, mengadopsi standar keamanan bebas timbal (lead-free) sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat. 

“Standar ini diterapkan melalui regulasi yang membatasi atau melarang penggunaan timbal dalam cat, bahan bangunan, dan produk yang berpotensi digunakan di ruang hunian maupun fasilitas publik,” jelas Prof. Yuni.

Penerapan standar lead-free juga diikuti dengan peningkatan kesadaran mengenai pentingnya penggunaan material yang aman, pengawasan kualitas produk, serta praktik pemeliharaan bangunan yang bertanggung jawab.

BACA JUGA:Tingginya Kasus ISPA di Indonesia, Dokter Spesialis Anak Angkat Bicara 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait