Helm Anak
Helm lunak digunakan seorang balita. -HARIAN DISWAY-
SATU anak, satu cucu. Itulah sahabat saya di Huai An, Jiangshu, Tiongkok. Anak tunggalnya kini kerja di Beijing. Sudah punya anak satu. Masih balita. Sudah mulai belajar berjalan.
Kedatangan saya ke Huai An pekan lalu diketahui sang anak. Ia pun membawa istri dan anaknya ke Huai An. Sekalian agar ayah-ibunya bisa melihat cucu tunggal itu.
Betapa senang sang nenek. Betapa sayang pada si cucu. Sampai dia belikan helm lunak –untuk melindungi kepala cucu.
"Saya takut ia jatuh. Lalu kepalanya membentur lantai," ujar sang nenek.
Lihatlah foto anak balita itu. Ada helm di kepalanya. Maka si nenek merasa cucu itu aman. Begitu sayangnya pada cucu satu-satunya.

Nenek bermain dengan cucunyi di Huai An.-HARIAN DISWAY-
Helm untuk anak balita, awalnya sebagai alat medis. Ketika tulang tempurung si anak masih lunak. Helm itu bisa membantu menormalkan bentuk tulang tengkorak.
Lama-lama helm seperti itu berkembang menjadi alat pengamanan balita. Terutama ketika balita sedang belajar duduk dan berdiri. Badannya belum punya keseimbangan. Balita sering terjengkang ke belakang. Kepalanya membentur lantai. Padahal zaman sekarang lantai rumah terbuat dari keramik yang keras.
Zaman saya balita alat seperti itu tidak diperlukan. Lantai rumah saya terbuat dari tanah. Mungkin sama empuknya dengan tulang tengkorak balita. Kini kian banyak benda keras di sekitar balita yang belajar berjalan atau berlari.
Saya tidak tahu sudah seberapa luas penggunaan "helm lunak" seperti itu di Indonesia. Di Tiongkok kian tahun kian luas –seiring dengan langkanya cucu di sana. Bentuk dan warna "helm" nya pun kian beraneka.

Gambar gerobak satu roda yang ada sejak 1000 tahun lalu dipajang di museum Huai An.-HARIAN DISWAY-
Kadang pemakaiannya berlebihan: sepanjang hari. Padahal itu kurang baik bagi perkembangan balita: kurang bisa mengembangkan keseimbangan badan. Juga tidak bisa mengembangkan sensitivitas pada suatu bahaya. Terlalu bergantung pada helm. Padahal balita juga harus terlatih mengenal lingkungan: mana yang berbahaya dan mana yang tidak.
Bahwa di Tiongkok penggunaan helm itu meluas itu karena bangsa Asia Timur memang terkenal sangat protektif kepada anak. Terutama oleh ibu-ibu mereka: Jepang, Korea, Tiongkok.
Di Indonesia pengawasan kepada anak lebih bersifat kolektif: dijaga bersama oleh keluarga besar. Akibatnya pembentukan jiwa mandiri tidak kuat.
Anda sudah tahu: bangsa yang membuat anak lebih mandiri adalah Eropa Utara: Denmark, Finland, Norway dan Swedia.
Tapi semua itu tidak berlaku umum. Tentu ada pengecualian: misalnya Anda. (DAHLAN ISKAN)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 26 April 2026: Fisika Arco
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Kalender.. INOVASI DARI ORANG TIONGKOK MULAI BANYAK BERMUNCULAN: BAGAIMANA PROSPEKNYA DALAM MEMENANGKAN HADIAH NOBEL..? Sejarah panjang Tiongkok memang akrab dengan inovasi. 1) Kertas, 2) Kompas, 3) Bubuk mesiu. 4) Bahkan obat malaria modern dari Tu Youyou lahir dari ramuan tradisional. Ini bukan kebetulan. Ini budaya panjang: 1) eksperimen, 2) adaptasi, dan 3) ketekunan. Kini momentumnya kembali. 1) Investasi riset naik. 2) Publikasi ilmiah melonjak. 3) Laboratorium tumbuh seperti jamur musim hujan. Tiongkok mulai mengejar, bahkan di beberapa bidang sudah memimpin. BAGAIMANA peluang Tiongkok mendapat Hadiah Nobel? Terbuka. Bahkan makin sering terdengar. Apakah Barat lebih dimudahkan? Secara resmi, tidak ada aturan begitu. Nobel Prize menilai karya, bukan paspor. Tapi realitasnya bisa saja orang Eropa/Amerika lebih diuntungjan. Jaringan akademik, akses jurnal, reputasi institusi—banyak berpusat di Eropa dan Amerika. Ini bukan konspirasi. Ini ekosistem lama yang belum sepenuhnya berubah. Namun angin mulai bergeser. Kolaborasi global makin luas. Peneliti Asia makin terlihat. Nama-nama baru muncul di panggung besar.
Kalender Bagus
Orang Cina sepertinya DNA nya lekat dengan teknologi. Banyak penemuan keren, selain arko, semisal porselen, kertas, kompas, bubuk mesiu, tahu, besi cor, bakso, kwetiau, atau pun teh. Dan mungkin banyak yang belum tahu, obat malaria modern artemesin, berasal dari ramuan tradisional mereka. Saya curiga, kemajuan Amerika saat ini karena ada campur tangan orang Cina. Bukankah Amerika pernah bulan madu dengan Cina saat perang dunia 2.
Liáng - βιολί ζήτα
CHDI : "Saya tertegun ketika tiba di depan dinding yang memajang ilustrasi ini: gerobak dengan satu roda di bagian depannya. Gerobaknya terbuat dari kayu. Rodanya pun dari kayu." ............... "Di Huai An saya tidak mendapat kepastian siapa penemu arco. Di sana umumnya orang mengetahui penemunya adalah Zhuge Liang –meski belum pasti." Kemungkinan besar, itu adalah 中国的独轮车 (Zhōngguó de dúlúnchē). Berdasarkan catatan Arkeologi, bukti paling awal tentang gerobak dorong berasal dari artefak yang digali dari makam Dinasti Han (汉代 Hàndài) di daerah Chengdu (成都 Chéngdū) di Sichuan (四川 Sìchuān) sekitar tahun 118 M (sebelum Zhuge Liang lahir) yang menggambarkan seseorang menggunakan gerobak dorong. Literatur menunjukkan, Zhuge Liang (181 - 234 M) mengembangkan 木牛流马 (Mùniúliúmǎ) yang berarti "sapi kayu dan kuda mengalir", untuk kepentingan militer sewaktu pertempuran tahun 231 M. Dari kata "mengembangkan", sangat jelas, itu berarti mengacu ke objek yang sudah ada, yang dimodifikasi untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu..... dapat dipastikan Zhuge Liang "bukan penemu arco" tersebut..... Lantas..... Apa dan bagaimana 中国的独轮车 (Zhōngguó de dúlúnchē) ?? Juga, apa itu 木牛流马 (Mùniúliúmǎ)nya Zhuge Liang ?? Silakan dibaca saja literaturnya.....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
AS JUGA INGIN MENGUASAI SELAT MALAKA: SIAPA PALING UNTUNG, DAN APA IMBALANNYA? Selat Malaka itu kasir raksasa. Kapal lewat. Uang ikut mengalir. Amerika Serikat tidak perlu punya. Cukup hadir, cukup berpengaruh. Itu sudah cukup mengunci jalur energi dunia. Siapa paling untung? 1) SINGAPURA. Pendapatan maritim—pelabuhan, bunker BBM, jasa logistik—diperkirakan sekitar US$60–70 miliar/tahun (±Rp960–1.120 triliun). Ini mesin uang. Stabil. Konsisten. Sulit disaingi. 2) MALAYSIA. Menikmati sekitar US$10–15 miliar (±Rp160–240 triliun) dari pelabuhan dan jasa terkait. Tidak sebesar Singapura, tapi tetap gemuk. 3) INFONESIA. Masih di kisaran US$5–10 miliar (±Rp80–160 triliun). Potensi besar. Realisasi masih tertahan. Infrastruktur dan positioning belum sekuat tetangga. ### Lalu, apa “imbalan” dari kerja sama dengan AS? 1)) Untuk Singapura: keamanan jalur, kepercayaan global, arus kapal tidak pindah. 2)) Untuk Malaysia: akses teknologi militer, latihan, dan stabilitas kawasan. 3)) Untuk Indonesia: peningkatan kapasitas pertahanan, intelijen, dan posisi tawar. Ini barter halus. Keamanan ditukar pengaruh. Uang mengikuti rasa aman. Dan di Selat Malaka, rasa aman itu mahal—dan sangat laku.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
KANAL 1.800 KM DAN TENAGA MANUSIA.. Saya masih tertegun. Membayangkan membangun banjir kanal sepanjang 1.800 kilometer. Manual. Tanpa alat berat. Di masa sekitar 1.000 tahun lalu, ketika manusia belum seramai sekarang. Saya tertegun, bagaimana menggerakkan orang agar mau mengerjakannya. Kerja paksa? Paksarela? Atau ada keyakinan yang lebih besar dari sekadar upah? Di Huai An, bayangan itu seperti hidup kembali. Ribuan, mungkin jutaan tangan. Menggali. Mengangkut. Menyusun. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Tanpa deadline PowerPoint. Tapi selesai. Mungkin ada cambuk kekuasaan. Mungkin juga ada iming-iming pangan. Atau sekadar rasa ikut membangun sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Sejenis gotong royong versi kekaisaran. Yang jelas, proyek sebesar itu butuh lebih dari tenaga. Ia butuh organisasi. Butuh logistik. Butuh kepemimpinan yang—entah keras atau visioner—mampu menjaga ritme. Hari ini kita punya ekskavator. Punya drone. Punya software manajemen proyek. Tapi sering kalah di satu hal: menyatukan manusia. Kanal itu bukan hanya soal air. Tapi soal bagaimana manusia digerakkan. Dan itu, sampai hari ini, masih jadi misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan.
djokoLodang
-o-- ... Roda satu yang diletakkan di depan itu ternyata sudah memenuhi prinsip fisika yang sangat sempurna: memindahkan pembebanan maksimal di titik ban itu. ... *) Anda pernah ngalami berjalan sambil membawa secangkir kopi yang hampir penuh? Misalnya saat ambil kopi di pesta mengisinya kelewat banyak? Dan berusaha supaya tidak tumpah? ~ Sambil berjalan itu, coba sambil merasakan "tan-tian" Anda --titik sedikit di bawah pusar. Niscaya kopinya tidak akan tumpah. --0-
Jokosp Sp
Saya terus penasaran dengan kemajuan dan kemakmuran yang dicapai China. Akhirnya coba cari data, dan ternyata...waooooow. Dari data 2024-2025 perbandingan angka kemiskinan Indonesia dengan China: Indonesia dengan jumlah penduduk yang 280 juta. Angka kemiskinan berdasarkan BPS 2024 = 8,57% setara dengan 24,06 juta jiwa. Bank Dunia menyebut malah lebih tinggi dengan menggunakan standard pendapatan menengah ke atas $6,85/hari, angkanya 60,3% atau 171,7 juta jiwa dianggap masih di bawah garis tersebut. Perbandingan dengan China: Jumlah pendduk 1,4 milyar jiwa dengan angka kemiskinan dari data resmi pemerintah sebesar 1,9% atau 166,6 juta jiwa. Angka tersebut mencakup mereka yang rentan, bukan lagi kemiskinan ekstrem di bawah standar internasional. China juga berhasil menurunkan angka kemiskinan secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Artinya angka kemiskinan Indonesia masih jauh lebih tinggi dibanding dengan China. Coba kita bandingkan angka indek korupsinya berdasar Transparancy International. Peringkat CPI RI dari Trading Economics Indonesia menurun 10 peringkat ke posisi 109 dari 180 negara dengan score 34/100. Yang masuk dari salah satu score terendah di Asia Tenggara. China bagaimana?. Ternyata ada di peringkat 76. Jauh sekali ternyata. Jadi Angka kemiskinan yang tinggi sebanding dengan peringkat korupsinya yang juga rendah (peringkat/skor lebih tinggi berarti lebih bersih). Oaaaaallllllaaaaaah.
Leong Putu
Lihat videonya Pak Bos saat senam Dahlan Iskan di Cina sana, baru nyadar, pantesan Pak Bos gak bisa "neko²" saat mbolang. Lha wong dikawal ketat "Si Mata Elang". Ai Meme tinggi langsing itu selalu mepet Pak Bos, pastilah laporannya ke Bu Bos real time. Misal : "Bu Dahlan, Pak Bos sedang lirik 7i tanpa kasih kendor, sampai jalanpun kesandung trotoar" .. "Bu Dahlan, Pak Bos sedang cengengesan ke kasir resto tempat makan siang" .. "Bu Dahlan,......" "Bu Dahlan.......
Juve Zhang
Zhuge Liang muda selalu bermunculan di Tiongkok mereka menguasai riset dunia 70% itu kata Jensen Huang cwo Nvidia bukan ka ta supir angkot....jelas Jensen Huang cemas ....masa depan ada di T bukan di A....chips Nvidia makin sulit dijual ke T....dulu Nvidia kaya raya dari jualan chips ke T.... sekarang T sudah mampu mengejar Nvidia.... Jensen Huang sudah paham jalan masa depan ada di T....semua jenius Zhuge Liang ada di sana kumpul di T....cuma masalah waktu yg akan membalikan semua kekayaan Nvidia turun ke bawah.... Jensen Huang sendiri cuma punya saham Nvidia 3%. Tapi nilai perusahaan nya di jaga sama Top Fund managers gak bakalan melorot....wkwkw
Vikagora Prayogi
Zaman masih kecil dulu awal tahun 90an, ketika ada keluarga yang tebang pohon kelapa saya sama temen-temen merencanakan bikin mainan mirip arco. Batang kelapa bagian ujung dipotong seukuran roda kemudian di haluskan luarnya, kadang dibungkus karet ban bekas kalau tidak ada kita pakai sandal bekas. Bagian tengahnya di lubangi dan di isi dengan bambu kecil untuk lubang poros atau as roda Kami buat bambu dibentuk seperti tangga yang bagian ujungnya dimasukkan terlebih dahulu ke lubang roda sebagai as roda. Dengan itu kami bergantian untuk naik, kadang kami naik 2 atau 3 orang dan paman paman yang mendorong kami keliling kampung. Saat itu kami belum begitu faham ilmu fisika meletakkan beban terpusat di roda, yang penting bisa bermain dan senang bersama teman teman.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
ARCO DAN SATU HAL YANG SERING TAK TERPIKIRKAN.. Orang melihat arco, pikirnya alat angkut. Selesai. Padahal ada satu hal yang jarang disadari: ia mengubah cara tubuh bekerja. Di museum Huai An itu, gerobak satu roda bukan sekadar efisien. Ia “memaksa” manusia berdiri di posisi optimal. Punggung relatif tegak. Beban tidak menekan bahu. Tangan hanya mengarahkan, bukan mengangkat penuh. Bandingkan dengan pikul tradisional. 1) Beban menggantung di bahu. 2) Tulang belakang yang menanggung. 3) Dalam jangka panjang, itu mahal. Bukan uang. Tapi kesehatan. Arco diam-diam adalah teknologi ergonomi. Jauh sebelum istilah ergonomi populer di buku teknik. 1) Ia menjaga tenaga. 2) Sekaligus menjaga tubuh. Mungkin Zhuge Liang tidak memikirkan istilah itu. Tapi hasilnya terasa. 1) Produktivitas naik. 2) dera turun. Itu sudah cukup jadi “ilmu”. Yang sering luput, teknologi hebat bukan hanya memindahkan barang. Tapi memindahkan beban dari "tubuh manusia" ke "sistem". Arco melakukannya dengan sunyi. Tanpa seminar. Tanpa sertifikasi. Tanpa slide presentasi. Tapi dampaknya nyata, setiap hari, sejak seribu tahun lalu.
Wilwa
Dan tambah parah seabad setelah Amangkurat II yaitu ketika paman dan ponakan mantu dan ponakan bukan mantu berkonflik. Sang Paman yaitu Mangkubumi kemudian mendirikan Kesultanan Yogyakarta bergelar Hamengku Buwono. Naik tingkat dari Mangku Bumi (memangku bumi, bumi kok bisa dipangku ya?) menjadi memangku semesta! (hamengku = memangku, buwono = buana = alam semesta). Sedangkan sang keponakan yang masih muda itu (Pakubuwono IV) pasrah saja wilayahnya diambil separuh oleh Sang Paman. Berkat VOC yang menjadi penengah. Paku Buwono = Paku Semesta! Semesta bisa lho dipaku! :). Lalu mantu sekaligus ponakan Mangkubumi yaitu Raden Mas Said karena gak dapat bagian wilayah berbalik memberontak kepada mertua sekaligus pamannya itu dan berpihak pada sepupunya (Pakubuwono/Pakubuwono IV) yang semula dia perangi, sampai akhirnya VOC datang menengahi lagi dan RM Said akhirnya dapat bagian wilayah juga, diambil dari wilayah Pakubuwono IV. Angka 4 itu mungkin memang angka sial. Hmmm. RM Said yang dijuluki Pangeran Samber Nyowo (Sambar Nyawa) itu kemudian bergelar Mangku Negoro / Mangku Negara. Negara bisa lho dipangku. :). Begitulah kisah tragis keturunan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang berperang sendiri berebut takhta.
Er Gham 2
Garpu dan pacul. Itu alat buat pembentuk otot para petani. Berangkat ke sawah atau padang setelah subuh. Lalu berjam jam nge-gym dengan pacul atau garpu. Walau kurus, legam, dan liat, namun tubuhnya tetap sehat dan kuat. Siang hari pulang lalu mandi. Setelah makan siang, tidur sebentar sambil menunggu ashar. Sore hari ngobrol dengan tetangga. Suatu siklus yang sehat. Tidak terpenjara oleh meja dan laptop dari jam delapan sampai jam lima sore. Tidak boleh keluyuran, kecuali saat makan siang. Diawasi oleh mata elang para atasan. Tiap pagi harus isi absensi atau tap name tag. Persis para napi di penjara yang harus diperiksa kehadirannya tiap pagi oleh para sipir penjara.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PERANG AM-IS VS IRAN: SCORE HARI INI, MILITER DAN POLITIK.. A)) Di medan militer, skor belum knockout. Amerika Serikat dan Israel unggul teknologi, udara, presisi. Serangan tepat, cepat, mahal. Iran bermain beda. Asimetris. Drone murah, rudal banyak, proxy di mana-mana. Hasilnya? 1) Secara taktis, AM-IS unggul. 2) Secara biaya, Iran efisien. Ini seperti Ferrari lawan kawanan motor bebek. Cepat vs ramai. 1) Di laut dan udara, dominasi masih di tangan AM-IS. 2) Tapi di darat—terutama lewat jaringan seperti Hezbollah—Iran punya “kedalaman permainan”. Perang jadi melebar, tidak rapi, dan sulit ditutup. B)) Di politik, skornya lebih licin. AM-IS unggul aliansi formal, dukungan Barat, dan legitimasi sebagian. Tapi Iran unggul narasi perlawanan dan simpati di Global South. Sanksi jalan, tapi tidak mematikan. Bahkan kadang menguatkan solidaritas domestik. Kesimpulannya: AA) Militer AM-IS unggul di atas kertas. BB) Politik? Seri cenderung ke Iran. Perang ini bukan sprint. Ini maraton. Dan yang sering menang maraton bukan yang paling cepat. Tapi yang paling tahan napas.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 132
Silahkan login untuk berkomentar