Program Biodiesel Efektif Tekan Impor BBM dan Perbaiki Neraca Perdagangan Energi

Senin 13-04-2026,08:00 WIB
Program Biodiesel Efektif Tekan Impor BBM dan Perbaiki Neraca Perdagangan Energi

Program Biodiesel Efektif Tekan Impor BBM dan Perbaiki Neraca Perdagangan Energi--Ist

Dari sisi penghematan devisa impor, kebijakan biodiesel tahun 2025 berhasil menghemat sebesar Rp130,21 triliun dan mengurangi emisi mencapai 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.

Kemudian program B40 meningkatkan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp20,43 triliun.

Implementasi kebijakan mandatori dilakukan Indonesia secara bertahap mulai dari B1 hingga B2.5 pada tahun 2008 lalu.

BACA JUGA:Program Mandatori Biodiesel B35 Bisa Kurangi Ketergantungan Impor BBM

Kebijakan mandatori biodiesel terus berlanjut hingga mencapai B50 melalui dukungan dana sawit hasil pungutan ekspor (levy) yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP.

"Salah satu keberhasilan kita saat ini adalah substitusi solar impor dengan biodiesel sawit," tegasnya.

Ia mengingatkan, salah satu tujuan Indonesia mengembangkan bioenergi sawit adalah untuk memperbaiki lingkungan.

Penggunaan biodiesel dinilai lebih ramah karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.

Ia menjelaskan, konsumsi energi fosil secara global merupakan kontributor utama emisi yakni sekitar 70-80% yang memicu pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (global climate change).

BACA JUGA:Harga BBM Pertamina Naik Mei 2026, Ini Daftar Terbaru Pertamax Turbo hingga Dexlite

"Dengan menggunakan bioenergi sawit, Indonesia telah berkontribusi mengurangi emisi global. Artinya, penggunaan bioenergi sawit juga memperbaiki lingkungan hidup dan bukan merusak lingkungan," tegasnya.

Tungkot meyakini, bioenergi sawit merupakan bagian penting dari cita-cita Indonesia mewujudkan swasembada dan kemandirian energi pada masa mendatang.

Dengan demikian, Indonesia tak akan lagi bergantung kepada impor BBM fosil.

Peningkatan pemanfaatan biodiesel di dalam negeri ini akan berdampak luas tidak hanya pada sektor energi tetapi juga perekonomian secara keseluruhan. Kebijakan ini memberikan efek positif bagi industri kelapa sawit.

Permintaan terhadap CPO akan meningkat sehingga dapat membantu menjaga harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: