Ramai Dibahas, Apa Itu Gelembung AI yang Dikhawatirkan Dunia?
St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) merupakan salah satu forum ekonomi tahunan utama di Rusia yang mempertemukan pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas isu-isu strategis dalam ekonomi global.--istimewa
Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat Indonesia saat ini memiliki 185 pusat data dengan kapasitas 274 MW, dan kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 2.000 MW pada 2029.
Sechin juga menyoroti meningkatnya militerisasi dalam ekonomi global.
Belanja militer dunia telah meningkat selama 11 tahun berturut-turut, sementara sebagian besar modal mengalir ke tiga sektor yang saling terhubung erat, yaitu kompleks industri militer, perusahaan teknologi tinggi, dan sektor keuangan. Dalam pandangannya, Jerman secara efektif telah mulai mengarahkan ekonominya ke arah ekonomi berbasis perang.
Saat membahas kecerdasan buatan, Sechin mengatakan bahwa dunia sedang berada di ambang gelembung finansial terbesar sejak booming perkeretaapian pada abad ke-19.
Perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AI terus menarik porsi modal investasi global yang semakin besar, sementara manfaatnya terhadap peningkatan produktivitas belum sepenuhnya terbukti dalam data statistik.
Sechin juga mengingatkan kembali pada paradoks Robert Solow.
Menurutnya, sekitar 70% perusahaan saat ini telah menggunakan kecerdasan buatan, tetapi dalam 90% kasus selama tiga tahun terakhir, penggunaan tersebut belum menghasilkan peningkatan produktivitas tenaga kerja.
Pada saat yang sama, teknologi baru ini membutuhkan perluasan infrastruktur energi dalam skala besar.
Di Indonesia, adopsi AI semakin pesat, baik di tingkat pekerja maupun pelaku usaha.
Laporan Microsoft dan LinkedIn Work Trend Index 2024 mencatat 92% knowledge workers di Indonesia telah menggunakan AI generatif di tempat kerja, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 75% dan Asia Pasifik sebesar 83%.
BACA JUGA:PLN Perluas Penggunaan Artificial Intelligence untuk Tingkatkan Kualitas Layanan Pelanggan
Di sisi bisnis, riset AWS dan Strand Partners pada 2025 menyebutkan 18 juta bisnis di Indonesia, atau sekitar 28% dari total bisnis, telah mengadopsi solusi AI, dengan pertumbuhan adopsi mencapai 47% secara tahunan.
Namun, tingginya penggunaan AI belum selalu berarti transformasi yang matang.
Riset yang sama mencatat 76% bisnis di Indonesia masih menggunakan AI terutama untuk kebutuhan dasar seperti efisiensi dan penyederhanaan proses, sementara hanya 10% yang telah mencapai tahap integrasi AI yang lebih transformatif dalam pengembangan produk, pengambilan keputusan, dan model bisnis.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: