Estetika Lowbrow

Estetika Lowbrow

Ketika istilah Lowbrow diperkenalkan oleh Robert Williams pada 1970-an, ia bukan sekadar gaya visual, melainkan sikap budaya. -dok disway-

JAKARTA, DISWAY.ID - Sejak dikampus sebelum lulus, saya sering kali melihat karya bernuansa kartunal. Dipamerkan secara sporadik diberbagai tempat, termasuk galeri, yang disebut sebagai Lowbrow art.

Ia lahir dari wilayah yang sejak awal dianggap “tidak serius” oleh dunia seni tinggi (fine art). Ia tumbuh dari komik murahan, poster musik, budaya jalanan, kartun televisi, ilustrasi majalah, tato, skateboard, hot rod, sampai sampul album musik punk dan metal.

Ketika istilah Lowbrow diperkenalkan oleh Robert Williams pada 1970-an, ia bukan sekadar gaya visual, melainkan sikap budaya.

Ia menertawakan kemapanan seni modern yang terlalu steril, akademis dan elitis. Kemunculan majalah Juxtapoz pada 1990-an semakin memperluas legitimasi budaya ini, hingga akhirnya Lowbrow menjelma menjadi bahasa visual global.

Pada mulanya, Lowbrow memiliki energi subkultur. Ia dekat dengan kelompok pinggiran, komunitas underground dan generasi muda yang tumbuh di luar institusi seni formal.

Visualnya yang satir, grotesk, lucu dan absurd menjadi bentuk ejekan terhadap keseriusan seni tinggi. Ia seperti mengatakan bahwa dunia modern terlalu kaku untuk dipahami dengan estetika yang sopan.

Maka, kartun, monster, karakter imut, parodi budaya konsumen, hingga humor cabul menjadi alat untuk membongkar kemunafikan sosial.

BACA JUGA:Sosok Pembeli Lukisan 'Kuda Api' Karya SBY Rp6,5 Miliar Bukan Kaleng-Kaleng, Pemilik Perusahaan Tambang

Namun, sebagaimana banyak gerakan tandingan dalam sejarah budaya populer, Lowbrow perlahan kehilangan posisi perlawanannya ketika ia diterima pasar. Apa yang dahulu dianggap rendah, kini dipajang di galeri mewah, dilelang mahal dan dijadikan komoditas koleksi.

Tokoh seperti Mark Ryden dengan figur anak kecil bermata besar dan suasana surealisnya berhasil menjadikan estetika kartunal sebagai bahasa visual arus utama. Ironisnya, seni yang dahulu mengejek institusi akhirnya menjadi bagian dari institusi itu sendiri.

Fenomena tersebut juga terlihat di Indonesia sejak awal 2000-an. Generasi seniman muda tumbuh dalam lingkungan media yang dipenuhi anime Jepang, kartun televisi, komik, video game, meme, ilustrasi majalah, hingga budaya internet. Mereka lahir ketika televisi menjadi pusat hiburan keluarga.

Imajinasi visual mereka dibentuk bukan oleh lukisan klasik di museum, tetapi oleh Doraemon, Saint Seiya, Dragon Ball, Tom & Jerry, Gundam, Naruto, Disney, MTV atau sampul kaset band punk lokal. Bisa ditebak, ketika mereka menjadi seniman, bahasa visual yang keluar pun cenderung kartunal.

Di titik ini, yang menjadi menarik adalah, apakah kecenderungan Lowbrow di Indonesia merupakan pilihan estetika yang sadar atau hanya akibat dari kesamaan konsumsi budaya visual massal?.

Banyak karya tampak memiliki kemiripan bukan karena adanya manifesto bersama, tetapi karena semua tumbuh dalam algoritma visual yang sama. Imajinasi kolektif dibentuk oleh layar yang seragam.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: