PHD Wonosobo Amini Penerapan Manasik Haji Komtemporer

Minggu 21-06-2026,18:20 WIB
PHD Wonosobo Amini Penerapan Manasik Haji Komtemporer

Petugas Haji Daerah (PHD) Kabupaten Wonosobo, Khoirulloh di Madinah-MCH-

MADINAH, DISWAY.ID– Penyelenggaraan ibadah haji semakin mengalami transformasi positif. Namun, untuk menyesuaikan dengan perubahan tersebut, diperlukan keterlibatan lebih besar dari generasi muda pesantren yang memahami fikih ibadah haji kontemporer.

Hal itu disampaikan Petugas Haji Daerah (PHD) Kabupaten Wonosobo, Khoirulloh, saat ditemui di Mirage Taiba Hotel, Madinah, Sabtu (20/6/2026) sore.

“Transformasi yang dilakukan Kementerian Haji sudah mulai dirasakan. Jemaah merasakan pelayanan yang lebih nyaman dan fasilitas yang semakin baik dibanding sebelumnya,” ujar Khoirulloh.

BACA JUGA:Aja Kelalen! Dokter Ngapak Banyumas Bikin Jemaah Ketawa dan Semangat Jaga Kesehatan

Menurutnya, meski pelayanan di lapangan semakin baik, masih ada tantangan pada tahap pembimbingan sebelum keberangkatan. Sebagian Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) masih menggunakan materi manasik yang mengacu pada kondisi beberapa tahun lalu.

“Kadang materi manasik masih mengacu pada kondisi lima atau sepuluh tahun lalu. Sementara praktik di lapangan saat ini sudah sangat berbeda. Karena itu perlu pembaruan materi yang sesuai dengan kondisi terkini,” katanya.

Khoirulloh mencontohkan perubahan skema puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang kini menerapkan murur dan tanazul.

Kebijakan baru ini membutuhkan penjelasan fikih yang lebih kontekstual agar jemaah tidak kaget ketika berada di lapangan.

Ia menilai tokoh-tokoh muda pesantren, termasuk para gus muda yang menguasai fikih kontemporer, sangat dibutuhkan.

BACA JUGA:Kadaker Madinah Lepas Kloter 15 LOP, Jemaah Gelombang II Dipuji Tertib

Selain memahami kitab klasik, mereka mampu menjelaskan persoalan kekinian dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

“Kalau materi-materi kontemporer ini sudah diberikan sejak manasik, jemaah akan lebih siap dan tidak kaget ketika menghadapi kondisi yang sebenarnya di lapangan,” jelasnya.

Pengalaman musim haji 2026 menurut Khoirulloh membuktikan bahwa kehadiran generasi muda pesantren sangat membantu petugas dalam mendampingi jemaah, baik dalam menjawab persoalan fikih maupun menjelaskan kebijakan baru.

Khoirulloh berharap Kementerian Haji semakin membuka ruang bagi keterlibatan generasi muda pesantren dalam penyelenggaraan haji.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: