Kemenperin Ungkap Penyebab Tekanan Industri Manufaktur Kian Berat pada Juni

Rabu 01-07-2026,04:31 WIB
Kemenperin Ungkap Penyebab Tekanan Industri Manufaktur Kian Berat pada Juni

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan tantangan industri kini datang dari dua sisi, yakni produksi dan permintaan (demand).--Fajar Ilman

JAKARTA, DISWAY.ID - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui industri manufaktur menghadapi tekanan yang lebih berat pada Juni dibandingkan bulan sebelumnya. 

Selain kenaikan biaya produksi, lemahnya daya beli masyarakat dan ketidakpastian kebijakan juga dinilai memengaruhi prospek industri.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan tantangan industri kini datang dari dua sisi, yakni produksi dan permintaan (demand).

BACA JUGA:Kemenperin Minta Kepastian Insentif Kendaraan Listrik Perlu Dipercepat

"Tantangan industri di bulan Juni itu lebih berat dibandingkan bulan Mei. Kalau pada bulan Mei tantangannya hanya pada sisi produksi. Pada bulan Juni, tantangan dihadapi oleh industri ada pada dua sisi, dari sisi produksi dan dari sisi demand," katanya kepada wartawan, Selasa, 30 Juni 2026.

Menurutnya, tekanan produksi berasal dari kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan rupiah, pemadaman listrik, serta tingginya harga gas industri.

BACA JUGA:Bazaar Lebaran Kemenperin, Berkah 1.000 Mushaf Alquran hingga 3 Ribu Liter Minyak Goreng

Sementara dari sisi permintaan, Kemenperin melihat adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM non-subsidi. 

BACA JUGA:Kemenperin Sebut PHK Jadi Opsi Terakhir, Siapkan Langkah Mitigasi untuk Industri PT Pakerin

Selain itu, kenaikan BI Rate juga mulai mempengaruhi persepsi pelaku usaha.

"Untuk BI Rate sejauh ini dampaknya yang tertangkap oleh kami baru pada persepsi, ekspektasi usaha ke depan. Masih pada persepsi,"ucapnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: