Diabetes Mengintai Mata, 70 Persen Kasus Tak Terdeteksi Picu Risiko Buta

Selasa 21-07-2026,18:53 WIB
Reporter: Doddy Suryawan |
Diabetes Mengintai Mata, 70 Persen Kasus Tak Terdeteksi Picu Risiko Buta

Melalui inisiatif DRIVE, sistem skrining berbasis tele-ophthalmology kini tengah diuji di empat wilayah Indonesia untuk mempercepat deteksi, memperkuat sistem rujukan, dan memastikan pasien memperoleh pengobatan sebelum kehilangan penglihatannya.-dok Disway-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Indonesia menghadapi ancaman serius akibat diabetes melitus. Negara ini kini menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak dan diproyeksikan memiliki lebih dari 23 juta kasus pada 2030.

Ironisnya, sebagian besar penderita belum mengetahui dirinya mengidap penyakit tersebut sehingga Indonesia menghadapi ancaman serius akibat diabetes melitus.

BACA JUGA:Serial Remaja WeTV 12 IPA 4 Tayang 24 Juli 2026, Adaptasi dari Cerita AU Viral

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik di Jakarta.

Melalui Konsorsium DRIVE, berbagai pihak mengembangkan proyek tele-ophthalmology nasional untuk memperluas skrining retina, melatih tenaga kesehatan primer, serta mendukung target Kementerian Kesehatan menurunkan gangguan penglihatan hingga 25 persen pada 2030.

Ketua Umum PERKENI, Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, mengungkapkan jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat.

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), jumlahnya telah melampaui 20 juta orang pada 2023 dan diperkirakan mencapai 22–23 juta saat ini, bahkan berpotensi menembus lebih dari 30 juta pada 2045.

BACA JUGA:Harga dan Cara Beli Tiket Konser Tiffany SNSD di Jakarta 2026, Paling Murah Rp2 Juta

Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 73 persen penderita diabetes belum terdiagnosis. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah muncul komplikasi serius seperti gagal ginjal, penyakit jantung, hingga gangguan penglihatan.

“Diabetes yang tidak terkontrol akan mempercepat kerusakan organ. Semakin tinggi gula darah, semakin cepat komplikasi berkembang. Selain gula darah, tekanan darah tinggi, kolesterol, obesitas, dan kebiasaan merokok juga memperburuk kondisi,” ujar Yunir di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Universitas Gadjah Mada, Prof. Muhammad Bayu Sasongko, menyebut retinopati diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling sering terjadi, tetapi justru paling jarang disadari masyarakat.

BACA JUGA:Dasco Izinkan Komisi III Bahas RUU Perampasan Aset saat Masa Reses

Ia mengestimasi sekitar 5,2 juta penyandang diabetes di Indonesia telah mengalami retinopati diabetik. Penyakit ini sulit dikenali karena kerusakan terjadi di retina dan tidak mengubah tampilan luar mata, sehingga penderita merasa penglihatannya masih normal pada tahap awal.

“Retinopati diabetik pada fase awal hampir tidak bergejala. Karena itu skrining rutin sangat penting agar kerusakan retina dapat ditemukan lebih dini sebelum berkembang menjadi gangguan penglihatan permanen atau kebutaan,” kata Prof Bayu.

Menurut Bayu, sekitar 1,2 juta pasien bahkan telah membutuhkan penanganan lanjutan seperti terapi laser, suntikan obat ke mata, hingga operasi. 

Melalui inisiatif DRIVE, sistem skrining berbasis tele-ophthalmology kini tengah diuji di empat wilayah Indonesia untuk mempercepat deteksi, memperkuat sistem rujukan, dan memastikan pasien memperoleh pengobatan sebelum kehilangan penglihatannya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: