1 dari 4 Orang Indonesia Kegemukan, 'Sahabatnya' Penyakit Stroke hingga Diabetes

1 dari 4 Orang Indonesia Kegemukan, 'Sahabatnya' Penyakit Stroke hingga Diabetes

Dokter Spesialis Gizi Klinik, Diana Suganda--Bianca Khairunnisa

JAKARTA, DISWAY.ID - Kondisi kegemukan atau obesitas paling dekat dengan penyakit kronis atau degeneratif seperti stroke hingga diabetes. 

Pasalnya di Indonesia sendiri, hasil data dari riset yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas, dengan prevalensi meningkat dari 21,8 persen pada tahun 2018 menjadi 23,4 persen pada tahun 2023.

"Ini adalah kondisi medis kompleks yang dipengaruhi oleh faktor genetik, hormonal, metabolik, dan lingkungan," ucap Dokter Spesialis Gizi Klinik, Diana Suganda, kepada Disway dan awak media lainnya secara di Jakarta, pada Rabu 4 Maret 2026. 

BACA JUGA:Waduh! 60% ASN DKI Kegemukan, Pramono: Ikuti Gubernurnya, Tukang Jalan, Tukang Sepedaan

Lebih lanjut, Diana juga turut menambahkan bahwa obesitas sendiri juga merupakan penyakit kronis yang kompleks, bukan sekadar masalah gaya hidup atau kurangnya kemauan.

Dalam hal ini, dirinya memaparkan peranan mekanisme biologis di dalam tubuh manusia berupa hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang di otak, namun pada banyak individu, sistem ini tidak berfungsi dengan semestinya.

"Hal inilah yang menyebabkan upaya penurunan berat badan melalui willpower atau kemauan keras saja sering kali menemui kegagalan, karena individu tersebut sebenarnya sedang berjuang melawan sistem biologis tubuhnya sendiri," pungkas Diana.

BACA JUGA:Bantu Penyintas Banjir, Safrizal ZA Beri Bantuan Peralatan Dapur ke 600 KK di Bireuen

Dalam mengatasi permasalahan obesitas sendiri, sejumlah organisasi atau perusahaan kesehatan pun juga turut berupaya untuk memaksimalkan pedoman global terbaru World Health Organization (WHO) yang mengakui peran intervensi medis, termasuk penggunaan obat-obatan Glucagon-Like Peptide-1 GLP-1, dalam menangani kondisi ini secara komprehensif.

Salah satu perusahaan tersebut ialah Novo Nordisk. Melalui layanan apotek kesehatan miliknya yakni Novocare, Novo Nordisk berupaya untuk menghadirkan inovasi terapi berbasis GLP-1 yang telah diakui dalam pedoman global terbaru WHO.

Inovasi terapi GLP-1 Receptor Agonist (GLP-1 RA) dari Novo Nordisk dirancang untuk mendukung penurunan berat badan yang tidak hanya signifikan secara angka, tetapi juga berkualitas.

BACA JUGA:Benarkah Konsumsi Susu Bisa Bikin Kegemukan? Ini Penjelasan Ahli Gizi

Dengan demikian, penanganan obesitas secara medis tidak hanya membantu pasien memiliki berat badan yang lebih sehat, tetapi juga berkontribusi dalam menurunkan risiko komplikasi serius sehingga pasien dapat hidup lebih lama dengan kualitas hidup yang lebih baik.

"Terkait inovasi GLP-1 RA dari Novo Nordisk, data klinis menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 pasien mencapai penurunan berat badan kurang lebih 20 persen, dengan rata-rata penurunan sekitar 17 persen," jelas Diana.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads