Bohemian Rhapsody: Seni Menjadi Manusia
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-d-dok. Disway-
Kalimat sederhana itu mengingatkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang pencapaian-pencapaian besar, tetapi juga tentang menikmati proses, merasakan keindahan, dan mensyukuri keberadaan.
Albert Camus bahkan melihat kehidupan manusia sebagai sesuatu yang absurd. Dunia tidak selalu memberikan jawaban yang kita harapkan. Kadang-kadang kita bekerja keras tetapi gagal.
Kita berharap dicintai, tetapi justru dikecewakan. Kita mengejar sesuatu, lalu menyadari bahwa yang kita kejar tidak benar-benar membuat bahagia.
BACA JUGA:Homo Debatus
Namun, menurut Camus, justru dalam situasi itulah manusia harus tetap mencintai kehidupan. Seperti tokoh Sisifus yang terus mendorong batu ke atas gunung meskipun batu itu selalu menggelinding kembali, manusia tetap harus tersenyum dan menikmati perjuangannya.
Bohemian Rhapsody seolah menggambarkan pergulatan semacam itu. Lagu tersebut berbicara tentang kecemasan, rasa bersalah, kebingungan, dan pencarian kebebasan.
Ia seperti cermin dari kehidupan manusia modern yang sering kali terombang-ambing antara realitas dan impian.
"Nothing really matters to me."
Kalimat itu bukan berarti hidup tidak memiliki makna. Sebaliknya, ia bisa dipahami sebagai pembebasan dari tekanan dunia yang sering kali terlalu berlebihan. Tidak semua komentar orang lain harus dipikirkan.
BACA JUGA:Presiden dan Para Pengolok
Tidak semua standar masyarakat harus diikuti. Tidak semua perlombaan harus dimenangkan.
Kadang-kadang, manusia hanya perlu hidup dengan tenang.
Rabindranath Tagore, penyair dan filsuf India, percaya bahwa seni adalah jalan menuju kebebasan jiwa. Musik, sastra, lukisan, dan puisi bukanlah sekadar hiburan, melainkan cara manusia berdialog dengan semesta.
Karena itu, seorang bohemian biasanya sangat dekat dengan dunia seni. Mereka menulis, melukis, memotret, bermain musik, atau sekadar menikmati karya orang lain. Seni bagi mereka bukan hanya profesi, tetapi cara merawat jiwa agar tidak kering oleh rutinitas.
Di tengah zaman digital yang serba gaduh, semangat bohemian menjadi semacam oase. Ketika orang berlomba-lomba mencari validasi di media sosial, bohemian mengajak kita untuk kembali mendengarkan suara hati.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: