Bohemian Rhapsody: Seni Menjadi Manusia
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-d-dok. Disway-
BACA JUGA:Survival Guide di Republik Caption
Friedrich Nietzsche pernah mengatakan bahwa manusia harus berani menjadi dirinya sendiri. Menurut filsuf Jerman itu, manusia yang besar bukanlah mereka yang sekadar mengikuti kawanan, melainkan mereka yang mampu menciptakan nilai-nilai bagi kehidupannya sendiri.
Nietzsche menyebutnya sebagai proses menjadi "Übermensch", manusia yang melampaui dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, nasihat itu terasa sangat relevan. Tidak semua orang harus menjadi dokter, pengusaha, pejabat, atau selebritas. Tidak semua orang harus memiliki rumah mewah, mobil mahal, atau hidup yang tampak sempurna di media sosial.
Ada orang yang justru bahagia dengan menulis puisi, melukis, mengajar di desa, memotret alam, berkebun, atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil membaca buku.
Kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang seragam.
BACA JUGA:Selfie Dulu, Tuhan Nanti
Filsuf Yunani kuno, Diogenes, bahkan memilih hidup sangat sederhana. Ia menolak kemewahan dan menganggap kebahagiaan sejati tidak terletak pada kepemilikan benda-benda, melainkan pada kebebasan batin.
Ketika Alexander Agung menawarkan bantuan kepadanya, Diogenes hanya meminta satu hal: "Menjauhlah sedikit, karena engkau menghalangi sinar matahari."
Jawaban itu terdengar jenaka, tetapi sekaligus mengandung pesan yang dalam. Manusia sering kali terlalu sibuk mengejar sesuatu yang besar, padahal kebahagiaan kadang hadir dalam hal-hal yang sederhana.
Semangat bohemian juga dekat dengan gagasan Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis. Menurut Sartre, manusia pada dasarnya bebas, tetapi kebebasan itu sekaligus merupakan tanggung jawab. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas hidup yang kita pilih.
Menjadi bohemian bukan berarti hidup tanpa arah. Bukan pula berarti memberontak terhadap segala sesuatu. Kebebasan bukanlah kebebasan yang liar. Kebebasan adalah keberanian untuk menentukan jalan hidup sendiri sambil tetap bertanggung jawab atas konsekuensinya.
BACA JUGA:Jejak Kaki di Kepala Kerbau
Karena itu, bohemianisme tidak identik dengan kemalasan atau hidup tanpa aturan. Sebaliknya, banyak seniman besar yang hidup dengan disiplin tinggi. Mereka mungkin berbeda dari kebanyakan orang, tetapi mereka bekerja keras pada bidang yang mereka cintai.
John Lennon pernah mengatakan bahwa hidup adalah sesuatu yang terjadi ketika kita sibuk membuat rencana-rencana lain.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: