Pengamat Minta Pertamina Antisipasi Dampak Musim Kemarau terhadap Distribusi BBM
Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria---Dok. Istimewa
JAKARTA, DISWAY.ID - Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria mengingatkan PT Pertamina Patra Niaga agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang berpotensi mengganggu distribusi bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Indonesia.
Menurutnya, penurunan debit air dan pendangkalan sungai selama musim kemarau dapat menjadi ancaman serius bagi kelancaran distribusi BBM, terutama di daerah yang masih mengandalkan jalur sungai sebagai sarana utama pengangkutan energi.
Sofyano menegaskan, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan alam semata karena berpotensi berkembang menjadi masalah ketahanan energi nasional apabila tidak diantisipasi sejak dini.
"Musim kemarau tidak boleh berubah menjadi krisis distribusi BBM. Di beberapa daerah, sungai menjadi jalur utama pengiriman BBM. Ketika debit air menurun drastis, kapal tanker maupun ponton akan kesulitan beroperasi sehingga distribusi dapat terlambat dan berdampak pada pasokan di SPBU," ujarnya.
BACA JUGA:Kenaikan BBM RON 92 Dinilai Picu Salah Persepsi, Sofyano Zakaria: Pemerintah Harus Lebih Transparan
Ia menjelaskan, sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami gangguan distribusi berada di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua. Di Kalimantan Barat misalnya, distribusi BBM melalui Sungai Kapuas menuju Sanggau, Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu berisiko terganggu apabila alur sungai mengalami pendangkalan.
Risiko serupa juga dapat terjadi di Sungai Mahakam yang melayani Mahakam Ulu, Sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Sungai Kahayan, Sungai Katingan, Sungai Musi di Sumatera Selatan, hingga sejumlah jalur sungai di wilayah pedalaman Papua.
Menurut Sofyano, berkurangnya kedalaman sungai dapat memaksa kapal mengurangi kapasitas muatan bahkan menghentikan pelayaran di beberapa titik. Dampaknya, waktu distribusi menjadi lebih lama, biaya logistik meningkat, dan potensi kekurangan stok BBM di daerah terpencil semakin besar.
Karena itu, ia meminta Pertamina Patra Niaga tidak menunggu hingga gangguan distribusi benar-benar terjadi. Langkah mitigasi harus segera dilakukan sejak awal musim kemarau, salah satunya dengan memperkuat buffer stock di Fuel Terminal maupun SPBU yang berada di wilayah rawan.
Selain itu, Pertamina juga didorong memperkuat koordinasi dengan BMKG, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, serta otoritas pelayaran untuk memantau kondisi sungai secara berkala sehingga perubahan debit air dapat diprediksi lebih cepat.
BACA JUGA:Puskepi Soroti Dugaan Amplop Kode 1, Sofyano Zakaria Minta Publik Tak Gegabah
Sofyano juga menyarankan perusahaan menyiapkan jalur distribusi alternatif melalui transportasi darat apabila jalur sungai tidak lagi dapat dilalui.
Penggunaan kapal atau ponton dengan draft lebih rendah serta optimalisasi sistem pemantauan stok BBM berbasis digital dinilai penting agar potensi gangguan pasokan dapat segera direspons.
Tak hanya itu, ia menilai simulasi penanganan gangguan distribusi BBM perlu dilakukan secara berkala dengan melibatkan Pertamina, pemerintah daerah, aparat keamanan, operator transportasi, hingga pengelola SPBU agar koordinasi saat kondisi darurat dapat berjalan lebih efektif.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: