IHSG Ditutup Terpuruk, 45 Saham Unggulan Berbalik Melemah
Tekanan jual yang terus membayangi perdagangan sepanjang sesi II membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal bangkit hingga penutupan bursa pada Selasa 28 Juli 2026. -disway.id/Bianca Khairunnisa-
JAKARTA, DISWAY.ID - Tekanan jual yang terus membayangi perdagangan sepanjang sesi II membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal bangkit hingga penutupan bursa pada Selasa 28 Juli 2026.
Setelah sempat berupaya bertahan di awal perdagangan, IHSG akhirnya kembali terperosok ke zona merah dan ditutup melemah cukup dalam.
Pelemahan ini juga menyeret kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang sebelumnya masih mampu bertahan di zona hijau pada sesi I, namun akhirnya ikut berbalik arah menjelang penutupan perdagangan.
BACA JUGA:IHSG Sesi Siang Tergelincir, Pasar Masih Bergejolak Usai Mundurnya Perry Warjiyo
Setelah terus bergerak melemah sejak pembukaan sesi II perdagangan Selasa siang ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi menutup sesi perdagangannya dengan kembali terpuruk di zona merah.
Berdasarkan hasil pantauan Disway, IHSG menutup sesi perdagangannya pada Selasa 28 Juli 2026 ini dengan terkoreksi sebanyak 55,20 poin, atau setara dengan 0,89 persen ke level 6.130,59.
Indeks LQ45 terpantau melemah 4,53 poin atau 0,74 persen ke level 608,03.
BACA JUGA:IHSG Dibuka Tertekan, Anjlok 33 Poin ke Level 6.152! Analis Ungkap 4 Saham yang Layak Dipantau
Bursa AS Menguat
Di sisi lain, data PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk mengungkapkan bahwa indeks utama bursa AS Bursa saham Wall Street terpantau ditutup mayoritas menguat.
Dalam penuturannya, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada memaparkan bahwa penguatan sendiri turut dipengaruhi oleh investor yang menunggu rilis laporan keuangan kuartalan perusahaan raksasa teknologi, di tengah tetap tingginya harga minyak.
BACA JUGA:IHSG Tertekan di Penutupan Perdagangan, Analis Sebut Ada Peluang Penguatan Berikutnya
"Sentimen positif disebabkan oleh investor menunggu rilis laporan keuangan kuartalan perusahaan raksasa teknologi, di tengah kekhawatiran harga minyak tetap tinggi yang dapat memaksa Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga," ucap Priyambada.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: