Prabowo Subianto Sebut Jurnalis dan LSM 'Londo Ireng', Mahfud MD: Saya Juga Pernah Dicap Begitu!

Rabu 29-07-2026,06:07 WIB
Prabowo Subianto Sebut Jurnalis dan LSM 'Londo Ireng', Mahfud MD: Saya Juga Pernah Dicap Begitu!

Prof Mahfud MD, eks Menkopolhukam RI.-ist-

Catatan sejarah menulis bahwa istilah itu mulai populer ketika Perang Diponegoro berkecamuk selama lima tahun (1825–1830).

Saat itu, Belanda mendatangkan pasukan bantuan dari Minahasa, Sulawesi Utara, yang dipimpin oleh sosok bernama Benyamin Sigar.

Pasukan inilah yang kemudian disebut sebagai 'Londo Ireng' oleh masyarakat Jawa karena dianggap memiliki watak dan berada di pihak penjajah, meskipun fisiknya bukan berkulit putih.

Mahfud MD pun melanjutkan dengan mengungkap pengalaman pribadinya dituduh sebagai Londo Ireng.

"Saya juga pernah loh dituduh sebagai Londo Ireng, iya dulu, ada para koruptor saya sikat dan saya kejar tuh, anggota DPR tuh, lalu menggunakan tangan orang menyebut 'Pak Mahfud ini keturunan Amang Koro'," kenang Mahfud MD.

Ia menceritakan bagaimana para koruptor dan oknum anggota DPR yang ia kejar saat menjabat dulu menggunakan isu tersebut untuk menyerang balik dirinya.

Mereka mengaitkan nama 'Amang Koro', seorang tokoh dari Madura yang dalam sejarah dikirim ke Aceh untuk membantu Belanda menaklukkan Sultan Tengku Umar, dengan dirinya.

BACA JUGA:Prabowo Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif, Kemerdekaan Palestina Jadi Harga Mati

Tuduhan itu dinilai Mahfud MD tidak berdasar lantaran dirinya berasal dari Pamekasan, sementara 'Amang Koro' tercatat berasal dari Bangkalan.

Akan tetapi cap negatif sebagai pengkhianat sempat sempat menempel pada dirinya.

Dari rangkaian peristiwa ini, muncul pertanyaan besar: Apakah pernyataan Presiden yang menyamakan para pengkritik dengan 'Londo Ireng' merupakan bentuk ketidaksukaan terhadap kritik?.

Jika merujuk pada pernyataan publik, Presiden kerap mengajak masyarakat untuk mengkritisi jalannya pemerintahan.

Akan tetapi menurut Mahfud MD, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kritik yang konstruktif dan sehat justru sering kali direspon dengan penamaan-penamaan yang menyudutkan. Sebuah ironi di tengah gagasan negara demokrasi yang diusung.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: