Asiana Technologies Pamer Teknologi Ubah Sampah Jadi RDF, Bisa Jadi Pengganti Batu Bara
CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies Poltak Sitinjak---Dok. Istimewa
JAKARTA, DISWAY.ID - Pengelolaan sampah terus berkembang seiring munculnya berbagai teknologi yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan timbunan, tetapi juga pemanfaatan kembali limbah sebagai sumber energi. Salah satunya diperkenalkan PT Asiana Technologies melalui teknologi waste-to-fuel dalam ajang Indo Water, Indo Waste & Recycling, Indo Renergy & Electric, Indo Security, Indo Firex, dan IISMEX 2026 Expo & Forum di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Melalui teknologi tersebut, sampah perkotaan maupun sampah yang berasal dari tempat pemrosesan akhir (TPA) diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Asiana Technologies menyebut RDF yang dihasilkan memiliki nilai kalor lebih dari 3.500 kilokalori per kilogram dan berpotensi digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk kebutuhan industri.
CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies, Poltak Sitinjak, menjelaskan teknologi tersebut dikembangkan dengan menyesuaikan karakteristik sampah di Indonesia yang umumnya memiliki kadar air cukup tinggi.
“Alternative fuel yang bersumber dari solid waste, baik sampah industri, sampah organik maupun sampah perkotaan, setelah kita konversi dapat menjadi energi baru terbarukan yang kita sebut solid fuel,” kata Poltak kepada media di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
RDF Bisa Digunakan sebagai Pendamping Batu Bara
Menurut Poltak, bahan bakar yang dihasilkan melalui proses pengolahan sampah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pendamping batu bara atau co-firing pada fasilitas industri.
Pemanfaatannya tidak harus dilakukan dengan menggantikan batu bara secara langsung dan menyeluruh. Penggunaan RDF dapat diterapkan secara bertahap sesuai kebutuhan industri serta kemampuan teknologi pada fasilitas pengguna.
Poltak mengatakan proses pengolahan menjadi bagian penting karena sampah perkotaan di Indonesia pada umumnya masih tercampur dan memiliki kandungan air yang tinggi.
“Karena kandungan air di sampah-sampah kita di Indonesia itu tinggi. Jadi kami mengusulkan sampah diolah dulu, setelah menjadi bahan bakar baru digunakan di pembangkit atau pabrik yang menggunakan batu bara,” ujarnya.
Melalui konsep waste-to-fuel, sampah terlebih dahulu diproses, termasuk dengan mengurangi kadar airnya. Setelah material memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan, hasil pengolahan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Asiana Technologies Kenalkan Smart Container
Selain teknologi pengolahan sampah menjadi RDF, Asiana Technologies turut memperkenalkan smart container yang dirancang untuk mendukung proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dari tempat penampungan sementara (TPS).
Poltak menyebut satu unit smart container yang dikembangkan perusahaan memiliki kapasitas hingga 20 ton sampah setelah melalui proses pemadatan.
Sistem tersebut ditempatkan di TPS untuk menampung sampah sebelum diangkut menggunakan kendaraan khusus ketika kapasitas kontainer telah mencapai batas.
Pemadatan disebut dapat membantu mengurangi volume sampah sekaligus memisahkan air lindi untuk kemudian diolah lebih lanjut. Smart container juga dilengkapi sistem pemantauan sehingga operator dapat mengetahui kondisi kapasitas penampungan.
“Setelah penuh, ada AI yang memberi tahu operator untuk melakukan penjemputan,” kata Poltak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: