Menjaga Muktamar ke-35 NU sebagai Tuntunan dan Hikmah
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan saat pembukaan Muktamar ke-35 di Jombang, 27 Agustus 2026. -FOTO: BILLY-HARIAN DISWAY-
Jika Muktamar NU Ke-35 berhasil dijaga dalam bingkai tripartite—Filsafat Fikih sebagai panduan hukum kemaslahatan, Tasawuf sebagai penyuci batin dan niat, serta Literasi Akhlakul Karimah sebagai norma interaksi—maka muktamar ini akan memancarkan resonansi hikmah yang melampaui sekat-sekat internal Nahdliyin. Keberhasilan perhelatan agung ini tidak boleh diukur menggunakan indikator-indikator teknis-duniawi belaka, seperti kemegahan fasilitas seremonial atau kecepatan proses pemungutan suara. Keberhasilan Muktamar Ke-35 yang hakiki terukir pada tiga pencapaian spiritual-kebangsaan:
- Terjaganya Marwah Keulamaan dan Kesucian Jam’iyyah: NU mampu membuktikan kepada dunia bahwa organisasi sosial-keagamaan terbesar di dunia ini tetap teguh menjaga independensinya, menolak politik uang, dan tidak terpikat untuk menggadaikan otoritas moralnya demi kepentingan politik praktis jangka pendek.
- Lahirnya Pemikiran Strategis untuk Kebudayaan dan Kemanusiaan: Musyawarah yang dibimbing oleh keluhuran fikih dan kebersihan hati akan melahirkan keputusan-keputusan keagamaan (bahtsul masail) serta rekomendasi organisasi yang berorientasi pada pembebasan kaum terpinggirkan (al-mustadh'afin), penegakan keadilan hukum, dan perlindungan lingkungan hidup.
- Pewarisan Adab Bermusyawarah bagi Bangsa: Di tengah merosotnya etika politik publik di ruang nasional, NU memberikan keteladanan konkret (uswah hasanah) tentang bagaimana perbedaan pendapat yang tajam dapat dikelola dengan penuh kedewasaan, kejujuran, kehangatan rasa persaudaraan, dan kepatuhan pada adab.
Penutup
Menjaga Muktamar NU Ke-35 agar tetap berada di jalur tuntunan dan hikmah adalah panggilan sejarah sekaligus amanah etis-spiritual bagi seluruh kiai, santri, pengurus, dan delegasi muktamirin. Sebagaimana wewanti para dzurriyah Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari, mari kita hadirkan kembali "tongkat" keteguhan prinsip dan "tasbih" penyucian jiwa di dalam setiap bilik persidangan Muktamar Ke-35.
Dengan menjadikan fikih sebagai landasan aturan, tasawuf sebagai penataan niat batin, dan akhlakul karimah sebagai etika berinteraksi, Muktamar Ke-35 tidak hanya akan melahirkan kepemimpinan yang amanah, tetapi juga akan memancarkan cahaya (nur) permusyawaratan yang menyejukkan. Dari rahim Muktamar Ke-35 ini, Nahdlatul Ulama akan terus melangkah mantap sebagai pilar peradaban Islam Nusantara yang teduh, beradab, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin). (*)
*) Ketua PWNU Jawa Timur, Pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: