Lesehan Bareng Ratusan Kader NU di Jombang, Gus Yahya Tegaskan Jati Diri NU
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya saat berdialog bersama ratusan kader NU di Pondok Pesantren Darul 'Ulum, Peterongan, Jombang, Kamis malam (27/8/2026).-Dok/Disway.id-
Gus Yahya menuturkan, situasi tersebut mendorong dirinya memilih jalan islah sebagai upaya menjaga keutuhan organisasi. Menurut dia, perbedaan yang tidak dikelola dengan baik berpotensi membawa NU pada persoalan yang lebih besar.
“Karena, kalau pada waktu itu juga, saya melawan, NU akan pecah. Maka jalan yang saya tempuh adalah mengajukan islah,” lanjutnya.
Dalam konteks tersebut, Gus Yahya menyebut Muktamar di Jombang sebagai ruang yang dinilai paling tepat untuk mencari penyelesaian secara bermartabat dan transparan.
“Seandainya tidak terjadi Muktamar di Jombang, saya tidak tahu apa jalan keluarnya. Kalau cuma mengandalkan siapa yang lebih mulia atau siapa yang benar dan salah, saya tidak mau berspekulasi. Maka satu-satunya jalan adalah Muktamar,” tegasnya.
Menjelang Muktamar, Gus Yahya juga mengajak kader melihat dinamika yang terjadi bukan sekadar sebagai persoalan perebutan pengaruh atau perhitungan jumlah dukungan.
Ia mengaitkan situasi tersebut dengan pesan Hadratussyyaikh KH Hasyim Asy'ari dalam muqaddimah/nasyarah sekitar 93 tahun lalu atau 1335 Hijriah mengenai fitnah, musibah, dan kesempitan sebagai bagian dari ujian bagi umat dan organisasi.
“Senada dengan yang diutarakan Hadratussyaikh, bahwa sesungguhnya sekian banyak fitnah, musibah, dan keadaan sempit yang dirasakan hari ini adalah cobaan untuk menguji hati para hamba. Dari situ akan tampak siapa yang benar-benar jujur dalam pengakuannya sebagai kader NU, dan siapa yang tidak,” kata Gus Yahya mengutip pesan tersebut.
Karena itu, ia memandang Muktamar bukan semata arena untuk menentukan siapa yang memperoleh dukungan terbanyak. Lebih jauh, forum tersebut dinilai sebagai momentum untuk menguji sejauh mana warga NU mampu mempertahankan nilai, tradisi, dan jati diri jam'iyah.
“Ini bukan soal pihak-memihak atau kalkulasi angka, tetapi bagaimana kita menjaga kesetiaan kepada NU. Muktamar ini adalah wahana yang Allah jadikan bukti untuk memperlihatkan kepada semua orang bahwa Allah senantiasa bersama jam’iyah NU. Saya yakin, tidak mungkin Allah membiarkan NU dalam kerusakan,” tuturnya.
Gus Yahya pun mengajak seluruh kader menempatkan kepentingan jam'iyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam Muktamar menata kembali niat agar proses organisasi berjalan untuk kemaslahatan NU.
“Semua orang bisa melihat dengan mata telanjang, mana yang sungguh-sungguh dan mana yang pura-pura. Siapa yang mengaku membawa-bawa dan mempermainkan NU tanpa rasa malu, silakan pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak kader menyambut Muktamar dengan kesiapan menjaga persatuan dan optimisme terhadap masa depan organisasi.
“Mari kita niatkan keberadaan kita di Muktamar ini untuk kemaslahatan jam’iyah, dan bersiap menyaksikan takdir indah yang Allah berikan untuk NU,” pungkas Gus Yahya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: