El Nino Semakin Ganas, Perdagangan Saham Diprediksi Tertekan
intensitas El Nino sendiri juga dapat menekan daya beli, yang membatasi ruang bagi emiten konsumer untuk meneruskan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen.-dok Disway-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Dengan meningkatnya keganasan dari dampak fenomena El Nino di Indonesia, sejumlah analis turut memperkirakan bahwa harga saham beberapa emiten consumer staples berpotensi tertekan dalam jangka pendek.
Dalam hal ini, Investment Analyst Lead Stockbit Edi Chandren menuturkan bahwa tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat hingga akhir tahun seiring menguatnya intensitas El Nino.
BACA JUGA:Pakar Komunikasi Kebencanaan UPER Soroti Komunikasi di Tengah Gempa NTT, Apa yang Perlu Diperkuat?
Selain itu, intensitas El Nino sendiri juga dapat menekan daya beli, yang membatasi ruang bagi emiten konsumer untuk meneruskan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen.
"Meski kami memperkirakan pemerintah akan mengambil langkah untuk melindungi daya beli melalui penambahan jumlah bantuan, faktor inflasi ini menambah ketidakpastian bagi sektor konsumer," ucap Edi kepada media secara daring, pada Selasa (01/09).
Melanjutkan, Edi juga turut menambahkan bahwa kenaikan harga beberapa bahan baku utama, seperti CPO, gula, gandum, dan kemasan yang masing–masing telah menguat sekitar +8 persen, +19 persen, dan +16 persen, juga berpotensi menggerus margin emiten.
BACA JUGA:Satgas PKH Kuasai 111, 71 Ha Lahan Hutan di Dekat IKN, Denda Capai Ratusan Miliar Rupiah!
"Meski komposisi penggunaan bahan baku tersebut berbeda–beda untuk tiap emiten, secara keseluruhan kenaikan harga bahan baku menjadi sentimen negatif bagi emiten–emiten konsumer," tutur Edi.
Sementara itu mengacu pada estimasi konsensus untuk beberapa emiten konsumer, Edi turut melihat adanya risiko tidak tercapainya proyeksi laba bersih (earnings miss), terutama dari sisi margin laba kotor (lihat tabel).
Secara umum, proyeksi margin laba kotor konsensus masih mengimplikasikan margin yang lebih tinggi pada 2H26 dibandingkan 1H26, kecuali untuk Mayora Indah (USD MYOR).
BACA JUGA:Dibuka Presiden Prabowo, MTQ Nasional ke-31 di Semarang Diikuti 2.242 Peserta
Sementara itu, Indofood Sukses Makmur ($INDF) memiliki segmen CPO dan tepung terigu (Bogasari), sehingga sedikit memberikan natural hedging.
"Dalam jangka pendek sekitar 3–6 bulan ke depan, kami menilai sektor perbankan menawarkan prospek yang relatif lebih baik, seiring dengan kondisi likuiditas yang tidak seketat yang dikhawatirkan, mulai menguatnya momentum pertumbuhan kredit, serta tren kualitas aset yang terjaga" tutup Edi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: