Program Pemagangan Jepang Gratis Sepi Peminat di Banten, Hanya 73 Orang Ikut Tes

Selasa 15-09-2026,14:27 WIB
Program Pemagangan Jepang Gratis Sepi Peminat di Banten, Hanya 73 Orang Ikut Tes

Gubernur Banten Andra Soni saat kunjungi Sekolah Vokasi yang menjadi percontohan di wilayah Cikarang, Jawa Barat, belum lama ini.-Banten Raya-

SERANG, DISWAY.ID– Peluang kerja dan meningkatkan keterampilan ke luar negeri masih belum banyak dimanfaatkan masyarakat Banten. Program pemagangan ke Jepang yang digelar Kementerian Ketenagakerjaan melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang justru sepi peminat.

Kepala BBPVP Serang, Ady Nugroho, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyediakan anggaran dan kuota dalam jumlah besar. Bahkan, program pemagangan ke Jepang tidak membatasi kuota khusus untuk masyarakat Banten. Namun, dari ratusan orang yang sempat mendaftar, hanya 73 peserta yang melakukan daftar ulang dan mengikuti tes.

“Cuma memang masyarakat Banten ini diberikan seperti program pemagangan Jepang gratis dari kuota tidak terbatas, yang daftar cuma 73. Untuk gratis ke Jepang,” ujar Ady, Senin (14/9/2026).

BACA JUGA:Kapolda Metro Jaya Terima Audiensi Pimpinan DPRD DKI, Perkuat Sinergi Antarlembaga

Menurutnya, rendahnya partisipasi bukan karena minim informasi. BBPVP Serang sudah menyebarluaskan program melalui media sosial dan berkoordinasi dengan sejumlah kepala daerah.

“Di IG kami sudah diwara-warakan. Bahkan kami sudah komunikasi dengan beberapa kepala daerah. Yang daftar 300 sampai 500. Daftar ulang tinggal sekian-sekian. Ada tes kemarin itu cuma 73,” katanya.

Ady juga meminta alokasi kuota yang lebih besar untuk Banten, mengingat tingkat pengangguran di daerah ini masih relatif tinggi. Sekitar 60 persen anggaran Kemnaker yang tersedia di BBPVP Serang diprioritaskan untuk masyarakat Banten, sementara sisanya untuk Lampung dan Sumatera Selatan.

Selain pemagangan ke Jepang, BBPVP Serang juga menyediakan berbagai pelatihan vokasi berbasis kebutuhan industri (demand-driven), mulai dari sektor industri, perikanan, pertanian, hingga peluang kerja ke Jerman. Tingkat kebekerjaan peserta pelatihan saat ini berada di kisaran 40–50 persen.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Jamaluddin, menilai minimnya minat juga terkait jurusan-jurusan di SMK yang sudah jenuh. Pihaknya sedang melakukan evaluasi terhadap jurusan yang peminatnya tinggi namun peluang kerjanya terbatas.

BACA JUGA:Operasi SAR Pencarian Rombongan Jurnalis di Selat Sunda Dilanjutkan

Ia mendorong SMK di Banten membangun kerja sama langsung dengan dunia usaha dan industri, termasuk peluang kerja ke luar negeri. Pemprov Banten telah menjalin kerja sama dengan perusahaan di Jepang dan Cina untuk membuka akses bagi lulusan SMK.

“Kita sudah lakukan kerjasama di Jepang dan Cina. Jadi tamatan dari SMK bisa kerja di luar negeri. Dan ini kita dorong terus,” ujar Jamaluddin. (raffi)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: