Ketika Manusia Membela Tuhan
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
Sila kedua mengingatkan bahwa manusia harus diperlakukan secara adil dan beradab.
Dan sila ketiga mengingatkan bahwa perbedaan itu tidak boleh menghancurkan persatuan.
Dengan demikian, ketiganya sesungguhnya mempunyai hubungan yang sangat erat:
Ketuhanan tanpa kemanusiaan dapat berubah menjadi fanatisme.
Kemanusiaan tanpa keadilan dapat berubah menjadi slogan.
BACA JUGA:Memaknai Hari Ulang Tahun Kemerdekaan
Persatuan tanpa penghormatan terhadap perbedaan dapat berubah menjadi penyeragaman.
Karena itu, Pancasila tidak boleh hanya menjadi simbol negara. Ia harus menjadi etika hidup bersama.
Jangan sampai Indonesia belajar dari api
Melihat Nepal, Indonesia sebenarnya sedang melihat dirinya sendiri dari kejauhan.
Kita mempunyai masyarakat yang sangat majemuk. Agama, suku, bahasa, adat dan tradisi hidup berdampingan.
Dalam keadaan seperti itu, yang kita perlukan bukan masyarakat yang semuanya berpikir sama.
Kita justru membutuhkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa saling membenci.
BACA JUGA:Gus Yusuf, Darah Segar bagi NU
Sebab kerukunan tidak pernah berarti tidak adanya perbedaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: