Ketika Manusia Membela Tuhan
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
Kerukunan berarti perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Inilah pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai.
Apalagi di zaman media sosial, sebuah video pendek dapat menjadi bensin bagi konflik. Sebuah potongan suara dapat dipisahkan dari konteks.
Sebuah simbol dapat diberi tafsir provokatif. Sebuah kabar bohong dapat berlari lebih cepat daripada klarifikasi.
Maka, selain toleransi, kita membutuhkan kedewasaan komunikasi.
BACA JUGA:Navigating Crisis Through Brand Awareness: Reputasi, Aset Tak Berwujud Penjaga Eksistensi Bisnis
Jangan setiap perbedaan segera diberi label ancaman.
Jangan setiap simbol agama dianggap sebagai provokasi.
Jangan setiap kesalahan individu digeneralisasikan menjadi kesalahan seluruh kelompok.
Dan jangan menjadikan agama sebagai kendaraan untuk membawa kebencian politik.
Sebab ketika kebencian sudah memakai pakaian agama, ia menjadi jauh lebih sulit dihentikan.
Tuhan tidak membutuhkan massa untuk membela-Nya
BACA JUGA:Gus Yusuf dan Gagasan Khidmah Transformatif untuk NU Abad Kedua
Ada satu pertanyaan filosofis yang layak diajukan:
Benarkah Tuhan membutuhkan kita untuk membela-Nya dengan membakar rumah ibadah orang lain?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: