Rupiah Ambruk di Awal Pekan, BI Waspadai Risiko Inflasi Global

Senin 21-09-2026,21:50 WIB
Rupiah Ambruk di Awal Pekan, BI Waspadai Risiko Inflasi Global

Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37 persen. -dok Disway-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Mengawali awal pekan ini, hantaman tajam turut menimpa sektor keuangan Indonesia yang kembali diterpa oleh kabar pelemahan nilai tukar Rupiah, yang kembali melemah sebanyak Rp 89 atau 0,50 persen menjadi Rp 17.847 per dolar Amerika Serikat (AS), per Senin (21/09).

Dalam menanggapi kabar pelemahan tersebut, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menuturkan bahwa pelemahan tersebut turut dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD 100 per barel.

BACA JUGA:Diduga Tak Sesuai Label Gizi, Pemerintah Tindak 25 Merek Beras Fortifikasi Bermasalah

"Hal tersebut meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal. Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," tutur Erwin kepada media secara daring, pada Senin (21/09).

Melanjutkan, Erwin juga menambahkan bahwa dalam menghadapi pelemahan tersebut, BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya.

Nantinya, hal ini akan dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market.

BACA JUGA:Dermaesthetics Academy Hadir di BCBD Bekasi, Dorong Penguatan Kompetensi di Bidang Estetika

Selain itu, intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"BI juga akan memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif," tegas Erwin.

Sementara itu secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37 persen. 

BACA JUGA:Jembatan Krueng Tingkeum Bireuen Beroperasi, Jalur Logistik Aceh-Sumut Kembali Pulih

Selain itu, posisi cadangan devisa juga meningkat ke level USD 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

Tidak hanya itu, koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: