Suku Bunga The Fed Hantui Pasar, Ekonomi Ungkap Tekanan Defisit

Selasa 22-09-2026,15:43 WIB
Suku Bunga The Fed Hantui Pasar, Ekonomi Ungkap Tekanan Defisit

Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat -ist-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Hingga saat ini, keputusan The Fed dalam menaikkan suku bunga acuannya sebesar +25 bps, hingga ke kisaran 3,75–4 persen masih kian menjadi fokus utama dari kewaspadaan pasar modal domestik, terutama setelah nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kembali melemah sebanyak Rp 89 atau 0,50 persen menjadi Rp 17.847 per Senin (21/09).  

Dalam menghadapi pelemahan tersebut, Bank Indonesia (BI) sendiri telah mengeluarkan langkah berupa peningkatan imbal hasil instrumen, serta intervensi dilakukan di pasar valuta asing moneter.  

Dalam menanggapi rencana tersebut, Pengamat sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai bahwa secara moneter, langkah itu dapat dipahami. Awan tetapi, bunga tinggi bukan tanpa biaya.  

BACA JUGA:Pemerintah Lunaskan Hutang BLBI Rp 218,3 Triliun ke BI

“Di sinilah muncul paradoks. Pemerintah ingin mendorong pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, tetapi stabilitas rupiah justru membutuhkan harga uang yang mahal,” ujar Achmad kepada Disway, pada Selasa (22/09).  

Melanjutkan, dirinya juga menambahkan bahwa tekanan eksternal memang nyata. Akan tetapi, kekuatan rupiah juga ditentukan fondasi ekonomi domestik.  

Dalam hal ini, neraca Pembayaran Indonesia triwulan II 2026 menunjukkan defisit transaksi berjalan mencapai USD 12,5 miliar atau sekitar 3,3 persen PDB, melonjak dari sekitar 1 persen PDB pada triwulan sebelumnya.  

Menurutnya, defisit ini berkaitan antara lain dengan memburuknya perdagangan migas, mengecilnya surplus nonmigas dan meningkatnya pembayaran pendapatan primer.  

“Ini angka yang perlu dicermati. Ketika transaksi berjalan defisit, Indonesia semakin membutuhkan aliran modal untuk menutup kebutuhan devisanya,” ucap Achmad.  

“Ketergantungan berlebihan kepada modal asing membuat rupiah selalu sensitif terhadap keputusan yang dibuat ribuan kilometer dari Jakarta,” tambahnya.  

BACA JUGA:Sesi I Selasa, IHSG Melemah 1,01% ke 6.320,36

Sementara itu di sisi lain, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea turut menuturkan bahwa dalam menghadapi pelemahan tersebut, BI akan terus hadir di pasar untuk memas tikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya.  

Nantinya, hal ini akan dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market.  

Selain itu, intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.  

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: