Teks Khutbah Jumat 25 September 2026 NU: Peringatan Allah bagi Mereka yang Merusak Alam

Kamis 24-09-2026,12:16 WIB
Teks Khutbah Jumat 25 September 2026 NU: Peringatan Allah bagi Mereka yang Merusak Alam

Teks khutbah Jumat, 25 September 2026 dari Nahdlatul Ulama (NU) tentang hukuman bagi manusia yang merusak alam.--Gemini AI

Akhir-akhir ini, kita dihadapkan dengan kondisi alam yang kerap tidak bersahabat dengan manusia. Kekeringan, gempa bumi, kebakaran hutan dan berbagai musibah alam lainnya datang silih berganti. Pada saat  saudara-saudara kita yang ditimpa musibah gempa bumi belum sepenuhnya pulih, musibah asap kebakaran hutan juga melanda saudara-saudara kita di Kalimantan dan Sumatera.

Namun, harus kita sadari bahwa berbagai fenomena dan bencana alam yang terjadi tidak selalu bersifat alamiah. Terkadang, berbagai bencana dan fenomena merupakan cara alam merespons tindakan serakah dan eksploitatif yang dilakukan oleh manusia. Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan berbagai bencana lainnya seringkali disebabkan oleh kelalaian dan keserakahan manusia dalam berinteraksi dengan alam.

Kerusakan dan bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia ini sudah digariskan Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 41. Allah SWT berfirman: 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: Ayat 41).

Ayat di atas secara tegas menggambarkan bahwa kerusakan yang terjadi di alam semesta ini dengan setiap komponennya disebabkan oleh ulah manusia. Imam an-Nasafi dalam kitabnya Madarikut Tanzil, juz 2 hal. 703 menjelaskan sebagai berikut:  

{ظَهَرَ الفساد فِى البر والبحر} نحو القحط وقلة الأمطار والريع في الزراعات والربح في التجارات ووقوع الموتان في الناس والدواب وكثرة الحرق والغرق ومحق البركات من كل شئ  

Artinya: "{Telah tampak kerusakan di darat dan di laut} seperti terjadinya paceklik, minimnya curah hujan, berkurangnya hasil panen, menurunnya keuntungan dalam perniagaan, terjadinya kematian masal pada manusia dan hewan, sering terjadi kebakaran dan banjir, sert lenyapnya keberkahan dari segala sesuatu." 

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah

Kerusakan-kerusakan yang disebutkan tadi bukan terjadi tanpa alasan. Namun, ia seringkali muncul sebagai akibat dari maksiat dan tindakan semena-mena yang  dilakukan manusia.

Syaikh Musthafa al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi juz 21 hal 55 menjelaskan bahwa kezaliman dan keserakahan menjadi sebab utama datangnya bencana. Lebih jauh lagi, ia menjelaskan bahwa prilaku dan karakter tersebut lahir dari hawa nafsu yang tidak terkendali, yang disertai dengan lemahnya iman.  

Dalam kondisi seperti ini, manusia akan bertindak semena-mena terhadap alam. Ketika keimanan dan keyakinan seseorang lemah, maka tidak ada rem yang dapat mengendalikan hawa nafsunya untuk berbuat kerusakan. Inilah yang menjadi akar masalah dari tindakan eksploitatif yang merusak harmoni serta keseimbangan alam.

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah

Berbagai kerusakan dan bencana yang terjadi barangkali adalah dampak dari kemaksiatan kita, baik maksiat kepada Allah maksiat kepada diri sendiri, maksiat kepada sesama manusia, bahkan maksiat kepada alam. Itu sebabnya Abul 'Aliyah.  

Sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya juz 6 hal. 287, mengatakan:  

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: