Begini Hasil Mediasi Warga Pondok Pinang yang Dikeroyok Gara-gara Kembang Api Maulid
Amanda (baju merah) dan Benita (baju hitam) korban dari kericuhan dampak kebisingan kembang api perayaan Maulid Nabi-Disway/Fajar Ilman-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Kasus cekcok warga terkait penggunaan kembang api skala besar hingga dini hari dalam acara keagamaan di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, telah dimediasi.
Amanda Andono (50), salah satu warga yang menjadi korban perlakuan kasar saat menyampaikan protes, mengungkapkan proses mediasi yang dijalaninya bersama pihak-pihak terkait.
BACA JUGA:Berawal dari Kamar 4x4 Meter, Yohanes Auri Kini Bangun Ekosistem 30 Perusahaan Kreatif
Adapun proses mediasi sempat dilakukan sebanyak dua kali. Pada pertemuan pertama yang digelar pada Minggu pagi dinilai kurang efektif.
Pasalnya, pada pertemian itu tidak dihadiri langsung oleh pihak penyelenggara acara.
"Mediasi itu menurut saya, karena tidak ada... hanya dihadiri oleh LMK dan RW tempat kejadian. Mereka juga tidak tidak melibatkan secara langsung di acara itu, gitu loh. Saya pengin ketemu dengan penyelenggara dan yang punya acara. Gitu. Jadi akhirnya ya akhirnya itu udah basi deh jadinya, karena cuma ngomong-ngomong gitu doang, ya ini alasan-alasan," kata Amanda saat ditemui, Senin, 5 Oktober 2026.
BACA JUGA:Dudung Titip Pesan ke Listyo Sigit, Ungkap Beratnya Tugas Kepala KSP: Harus Independen
Tidak dapat titik terang dalam pertemuan pertama itu, berlanjut pada Mingg malam setelah pihak korban menerima undangan resmi dari pengurus RT dan RW setempat.
Pertemuan kedua digelar dengan melibatkan jajaran aparat dan pemerintah daerah.
"Dapat undangan lagi dikasih sama Bapak RT dan Bapak RW saya bahwa nanti jam 8 akan ada mediasi dengan seluruh pihak yang akan dihadiri oleh Bapak e dari Intel-nya, dari itu dari Reskrim-nya, dari Bu Lurah juga, gitu loh. Ya saya juga kaget sih, wah ya alhamdulillah dimediasi seperti ini, jadi kami juga lebih tahu, laporan kami juga lebih jadi lebih ini, enggak cuma didapat dari apa, media sosial aja," ungkapnya.
Dalam mediasi kedua, dihadiri 2 korban lainya. Yakni, Sandra dan Benita yang merupakan warga setempat.
BACA JUGA:Pramono Buka Suara Soal Petasan Maulid Nabi hingga Dini Hari, Warga Diminta Tak Ganggu Tetangga
Mereka menyampaikan kronologi kejadian persekusi dan dugaan tindak kekerasan yang dialami saat mendatangi lokasi acara.
"Nah, baru setelah itu ada mediasi yang dimediasi oleh Ibu, Ibu Dina, Bu Lurah kami, ya saya menceritakan, Benita menceritakan kejadiannya, Sandra juga menceritakan kejadiannya," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: