Downgrade! Kelas Menengah Indonesia Makin Terhimpit, 1,2 Juta Orang Turun Kelas, Daya Beli Terancam
Suasana penumpang di terminal Bandara Juanda Senin 7 September 2026-Humas Angkasa Pura -
JAKARTA, DISWAY.ID - Jumlah kelas menengah di Indonesia terus menjadi sorotan. Kelompok yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama konsumsi nasional tersebut menghadapi tekanan ekonomi, mulai dari kenaikan biaya hidup, pendapatan yang sulit mengejar pengeluaran, hingga meningkatnya risiko kehilangan pekerjaan.
Menyusutnya jumlah kelas menengah menjadi sinyal yang perlu diperhatikan karena kelompok ini memiliki peran penting dalam menggerakkan berbagai sektor ekonomi, seperti ritel, fesyen, makanan dan minuman, pariwisata, perhotelan, manufaktur, hingga jasa.
Ketika kondisi keuangan rumah tangga semakin tertekan, masyarakat cenderung mengubah pola konsumsi.
Pengeluaran yang sebelumnya digunakan untuk berbelanja, berlibur, membeli kendaraan, atau menikmati layanan hiburan bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan membayar cicilan.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa persoalan daya beli tidak hanya berkaitan dengan jumlah uang yang dibelanjakan masyarakat.
Kemampuan menabung, memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan, serta merencanakan masa depan juga menjadi bagian penting dari kondisi ekonomi rumah tangga.
BACA JUGA:Singapura Selidiki 10 Perusahaan Terkait Karhutla RI, Bisnis Sawit dan Kehutanan Jadi Sorotan!
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah pada 2019 mencapai 57,33 juta orang atau 21,45 persen dari total penduduk.
Angka tersebut turun menjadi 47,85 juta orang atau 17,13 persen pada 2024 berdasarkan angka yang dikutip dalam data tersebut.
Sementara itu, laporan Mandiri Institute bertajuk Mandiri Institute Demographic Insights: Dinamika Kelas Menengah di 2025 yang dirilis pada Februari 2026 mencatat sekitar 1,2 juta orang turun ke kelompok ekonomi yang lebih rendah pada 2025.
Proporsi kelas menengah pun dilaporkan menyusut menjadi 16,6 persen dari 17,1 persen pada 2024.
Angka tersebut menunjukkan pentingnya memahami tekanan ekonomi yang dialami rumah tangga kelas menengah. Namun, perubahan kategori ekonomi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh konsumsi masyarakat melemah.
Pola pengeluaran dan kondisi keuangan rumah tangga tetap perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menjelaskan bahwa kelas menengah umumnya merujuk pada masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi relatif cukup.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: