Kisah Lula da Silva dan Prabowo Subianto, Budiman Sudjatmiko Tekankan Perjuangan Melawan Kelaparan
Budiman Sudjatmiko Soroti Kemenangan Lula da Silva, Singgung Prabowo dan Pengentasan Kemiskinan---Dok. Istimewa
JAKARTA, DISWAY.ID - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, melihat kemenangan Luiz Inácio Lula da Silva dalam Pemilihan Presiden Brasil 2026 sebagai pelajaran tentang pentingnya konsistensi memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Ia mengaitkan perjalanan politik Lula dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto yang memiliki latar belakang berbeda, tetapi sama-sama memimpin negara dengan tantangan pengentasan kemiskinan.
Lula berhasil mempertahankan posisinya sebagai presiden Brasil setelah mengalahkan Flávio Bolsonaro pada putaran kedua pemilihan yang berlangsung 25 Oktober 2026. Berdasarkan hasil resmi, Lula memperoleh 51,79 persen suara sah, sedangkan Flávio meraih 48,21 persen. Hasil tersebut menjadi sorotan karena Lula sempat berada di posisi kedua pada putaran pertama.
Bagi Budiman, kemenangan Lula bukan sekadar hasil persaingan politik. Ia memandangnya sebagai cerminan perjuangan panjang seorang tokoh yang menjadikan persoalan kelaparan dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian penting dari agenda politiknya.
Budiman memiliki pengalaman bertemu langsung dengan Lula ketika berkunjung ke São Paulo pada 2011, tidak lama setelah Lula menyelesaikan masa jabatan keduanya sebagai presiden. Pengalaman tersebut menjadi salah satu latar belakang bagi Budiman dalam melihat perjalanan politik pemimpin Brasil itu.
Lula memulai kariernya sebagai buruh pabrik logam sebelum terjun ke gerakan serikat pekerja di kawasan industri sekitar São Paulo. Pada akhir 1970-an, ia dikenal melalui perannya dalam aksi pemogokan besar. Setahun setelah ikut mendirikan Partai Pekerja pada 1980, Lula juga menghadapi penahanan pada masa pemerintahan militer Brasil.
Perjalanan politiknya tidak berlangsung mudah. Lula beberapa kali mengalami kekalahan dalam pemilihan presiden sebelum akhirnya berhasil menduduki jabatan tersebut. Pengalaman panjang itu menjadi bagian penting dari perjalanan politiknya hingga kembali memenangkan pemilihan pada 2026.
Sementara itu, perjalanan Prabowo Subianto berawal dari dunia militer. Setelah meninggalkan dinas militer pada 1998, Prabowo menjalani kehidupan di luar negeri sebelum kembali ke Indonesia dan membangun karier politik. Ia mendirikan partai politik, mengikuti sejumlah kontestasi pemilihan presiden, hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden Indonesia pada 2024.
Budiman menilai perbedaan latar belakang tidak semestinya menjadi penghalang bagi seseorang untuk bekerja sama ketika memiliki tujuan yang sama. Ia sendiri pernah menjadi aktivis yang dipenjara pada masa Orde Baru, tetapi kini menjalankan tugas pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo.
“Saya aktivis yang pernah dipenjara. Hari ini saya bekerja untuk seorang prajurit, karena kami sepakat tentang satu hal: tidak boleh ada anak Indonesia yang lapar,” ujar Budiman.
Pernyataan itu menggambarkan pandangannya mengenai rekonsiliasi politik. Menurut Budiman, bekerja bersama dalam pemerintahan tidak berarti menghapus atau melupakan pengalaman masa lalu. Sebaliknya, rekonsiliasi dapat menjadi jalan untuk memastikan perbedaan sejarah dan pandangan politik tidak menghambat upaya memperbaiki kehidupan masyarakat.
“Rekonsiliasi bukan melupakan sejarah. Rekonsiliasi adalah memilih untuk bekerja bersama demi mereka yang tidak ikut menulis sejarah itu,” kata Budiman.
Ia menempatkan kepentingan rakyat sebagai tolok ukur utama dalam menilai kerja sama politik. Bagi Budiman, latar belakang seseorang sebagai aktivis, prajurit, ataupun tokoh politik tidak seharusnya menjadi batas ketika tujuan yang diperjuangkan adalah kesejahteraan masyarakat.
Kisah Lula dan Prabowo, dalam pandangan Budiman, memperlihatkan bahwa perjalanan hidup dan pilihan politik seseorang bisa berbeda, tetapi keduanya dapat bertemu dalam agenda yang lebih besar. Tujuan tersebut adalah memastikan masyarakat memperoleh kehidupan yang layak dan tidak lagi menghadapi kelaparan.
Pesan itu juga menjadi pengingat bahwa pengentasan kemiskinan membutuhkan komitmen jangka panjang. Perbedaan politik dan pengalaman masa lalu tetap menjadi bagian dari sejarah, tetapi upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat harus menjadi prioritas bersama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: