Perempuan Pemberani Afghanistan

Rabu 24-12-2025,08:50 WIB
Oleh: Prof. Jamhari Makruf, Ph.D

Sepanjang sejarah modernnya, Afghanistan berulang kali menjadi medan konflik geopolitik yang melibatkan aktor eksternal dengan kepentingan ekonomi dan keamanan masing-masing.

Kerentanan Afghanistan semakin diperparah oleh konflik etnis yang berkepanjangan.

Negara ini dihuni oleh sekitar 20 kelompok etnis, dengan empat kelompok terbesar, Pashtun, Tajik, Hazara, dan Uzbek yang memiliki sejarah, identitas, dan afiliasi politik yang berbeda.

Sejumlah ilmuwan seperti Olivier Roy dan Rasul Bakhsh Rais menegaskan bahwa fragmentasi etnis dan sektarian, ditambah dengan politik agama yang kompleks, telah menciptakan struktur sosial-politik yang rapuh.

Kondisi ini membuka ruang luas bagi intervensi asing dan memperumit proses konsolidasi nasional.

BACA JUGA:Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia

BACA JUGA:Sosok Mohammad Nuh, Kandidat Pjs Ketua Umum PBNU dengan Pengalaman Komprehensif

Dalam situasi demikian, Afghanistan tidak hanya menjadi korban konflik internal, tetapi juga cermin dari bagaimana geopolitik global bekerja pada negara-negara yang berada di persimpangan strategis dunia.

Mengapa Indonesia Membantu Afghanistan?

Seorang mahasiswa doktoral asal Afghanistan di Program Hubungan Internasional UIII sedang meneliti alasan Indonesia memberikan bantuan, termasuk beasiswa pendidikan, kepada Afghanistan.

Pertanyaan ini menarik karena kedua negara tidak memiliki kedekatan geografis maupun hubungan etnis langsung.

Hubungan emosional Indonesia–Afghanistan berakar pada solidaritas keislaman.

Indonesia dan Afghanistan sama-sama bagian dari umat Islam.

Pada masa lalu, solidaritas ini bahkan mendorong sebagian Muslim Indonesia berangkat ke Afghanistan melawan Uni Soviet.

BACA JUGA:Langkah Bijaksana Syuriah dan Rais Aam PBNU

BACA JUGA:Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia

Kategori :