Hal tersebut juga mencerminkan tekanan yang lebih dalam pada ekonomi rumah tangga.
BACA JUGA:Mutu BBM dan Biofuel Global
BACA JUGA:Pertamina, Swasta dan Base Fuel
"Pinjol telah menjadi “mesin daya beli” bagi banyak masyarakat, dan di balik pertumbuhannya tersimpan cermin rapuhnya fondasi ekonomi nasional," tegas Achmad.
"Begitulah nasib pinjol di Indonesia: awalnya menjadi solusi bagi keterbatasan akses keuangan, kini berubah menjadi sumber utama daya beli masyarakat," sambungnya.
Lebih lanjut, Achmad juga turut menambahkan bahwa dengan akses mudah, proses singkat, dan promosi agresif, pinjol justru malah meningkatkan potensi gagal bayar, dan tekanan psikologis yang tidak kecil.
"Di era digitalisasi keuangan, kemudahan pinjaman justru melahirkan generasi dengan beban finansial yang semakin berat. Inklusi keuangan meningkat, tetapi literasi keuangan tertinggal," tutur Achmad.