Bagi Bintang, dampak pinjol tak hanya soal uang. Hubungan keluarga merenggang, stigma sosial melekat, dan tekanan mental terus menghantui.
“Hubungan keluarga makin jauh. Lingkungan memandang negatif,” tutupnya.
Lingkaran Setan di Balik Meja Kantor: Ketika Gengsi Menjerat Pekerja Kantoran
Di balik gedung-gedung kaca Jakarta, tersimpan rahasia yang jarang dibicarakan: fenomena “gaji numpang lewat”.
Tiga pekerja kantoran di kawasan Sudirman mengungkap realitas pahit hidup dalam bayang-bayang utang digital demi menjaga citra sosial.
Standar Pergaulan Mahal Bagi Rian (27), tekanan terbesar bukan berasal dari target kerja, melainkan lingkungan sosial.
BACA JUGA:Bukti MBG Jadi Multiplier Effect: Polri Bergerak, SOP Ditingkatkan, Limbah pun Berguna!
BACA JUGA:Mengawal MBG dari Hulu ke Hilir: Pengawasan Dapur Diperketat, Gizi Terjaga, Anak-anak Sehat!
“Kalau teman pakai iPhone terbaru atau sepatu branded, rasanya saya nggak level kalau nggak ikut,” ujarnya.
Pinjaman menjadi tiket agar tetap dianggap setara.
Gaji Datang untuk Pergi Maya (30) menyebut hari gajian justru jadi momen paling menegangkan.
“Pernah gaji langsung nol di hari pertama,” katanya.
Cicilan otomatis memaksa dirinya kembali berutang demi bertahan hidup.
Teror di Ruang Rapat Sementara Dedi (34) mengaku fokus kerjanya hancur akibat teror penagih.
BACA JUGA:SPPG Jadi Garda Terdepan Sajikan Menu MBG Berkualitas
BACA JUGA:Jeritan Hati Rojali dan Rohana, Mal Sepi Jadi Tempat Pelesir Gratis karena Dompet Menipis
“Takut kalau DC nelpon kantor atau HRD,” katanya.